Minggu, 19 April 2020

DI BALIK KAMPANYE ANTI (ROKOK) KRETEK INTERNASIONAL

Muhammad Muhibbuddin *

Dulu tepatnya Selasa, 11 Oktober 2011, Komunitas Kretek (Komtek) pernah menyelenggarakan acara bedah buku, Kriminalisasi Berujung Monopoli di kompleks Kepatehan,  Yogyakarta. Buku ini adalah antologi hasil riset sejumlah aktivis LSM dan akademisi yang menguak soal kuatnya kriminalisasi rokok di dunia, khususnya terhadap kretek di Indonesia. Pembicara utama dalam diskusi tersebut adalah Salamuddin Daeng, salah satu penulis buku tersebut.

Versus Kesehatan

Isu kesehatan adalah senjata ampuh sekaligus dalih paling absah bagi aksi kriminalisasi dan kampanye anti merokok/mengkretek.  Merokok (kretek), oleh gerakan anti (rokok) kretek dan rezim kesehatan telah dibenturkan dan dikonfrontasikan secara brutal dengan masalah kesehatan. Terkait dengan masalah kesehatan ini, ada tiga asumsi dasar yang diusung sebagai dasar legitimasi gerakan anti merokok (kretek):

Pertama, tembakau dan (rokok) kretek membahayakan kesehatan si perokok karena menyebabkan jutaan kematian. Asumsi ini masih bersifat warning (himbauan/peringatan) dan belum menimbulkan tindakan atau regulasi preventif secara lebih jauh.

Kedua, tembakau dan (rokok) kretek membahayakan orang lain atau perokok pasif (second–hand smoker). Asumsi kedua ini kemudian memunculkan sebuah konsekuensi sosial berupa regulasi pelarangan merokok/mengkretek di tempat umum. Asumsi dasarnya: setiap sesuatu yang mengganggu kenyamanan orang lain maka harus diatur atau ditertibkan. Dari asumsi ini kemudian lahir peraturan-peraturan pemerintah tentang perlunya penertiban dan pelarangan merokok di tempat-tempat publik.

Sedangkan asumsi ketiga, para perokok adalah orang sakit yang harus disembuhkan melalui pengobatan khusus atau melalui therapy pengganti (rokok) kretek. Dari asumsi ketiga ini kemudian muncul konsekuensi sosial lainnya berupa diciptakannya produk-produk baru di bidang kesehatan sebagai terapi bagi para perokok/pengkretek untuk meninggalkan kebiasan merokoknya. Produk-produk ini bisa berupa klinik maupun barang-barang suplemen pengganti (rokok) kretek.

Hingga saat ini isu kesehatan yang melandasi gerakan kampanye anti merokok masih sangat debatable. Memang rokok, termasuk kretek, mengandung unsur yang bisa menimbulkan kanker atau penyakit jantung. Tetapi pertanyaannya: apakah semua orang yang menderita kanker atau penyakit kronis secara eksplisit dan seratus persen pasti disebabkan oleh rokok atau kretek?  Apakah kanker yang menyerang banyak manusia di dunia itu mutlak dan sepenuhnya disebabkan oleh rokok atau kretek?. Hingga saat ini belum ada sebuah penelitian ilmiah yang mampu memastikan benar tidaknya persoalan tersebut.

Dalam realitas empirik justru banyak ditemukan banyak para perokok/pengkretek yang usianya jauh lebih panjang dan kesehatannya jauh lebih prima daripada mereka yang tidak merokok/mengkretek. Tidak jarang pula orang yang tidak merokok/mengkretek justru banyak terserang penyakit berat sehingga mati lebih dini daripada mereka yang merokok/mengkretek. Karena itu, mengkorelasikan penyakit-penyakit kronis dengan aktifitas merokok (kretek) hingga saat ini belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

Sebaliknya, justru terkesan sangat simplistik apabila merokok atau mengkretek disebut-sebut sebagai biang keladi utama dan faktor tunggal munculnya penyakit-penyakit kronis semacam kanker atau jantung. Sebab, kita hidup ini berada dalam lingkungan yang tidak seratus persen bersih dari zat-zat polutan. Ada banyak radikal bebas di sekeliling kita yang menyebabkan maraknya banyak penyakit. Sampah, asap kendaraan bermotor, asap pabrik, limbah perusahaan, segala bentuk organisme semacam virus atau bakteri dan sebagainya bisa dikatakan penyumbang radikal bebas terbesar yang memicu banyaknya penyakit kronis semacam kanker maupun jantung. Namun dalam kenyataannya, para aktifis LSM dan akademisi yang anti merokok/mengkretek tidak pernah mempersoalkan zat-zat polutan dari kendaraan bermotor atau limbah pabrik itu sebagai faktor utama munculnya penyakit. Mereka justru seolah membuat framing dalam bentuk narasi wacana bahwa (rokok) kretek adalah pemicu utama berbagai penyakit.

Implikasi dan sasaran tembak gerakan mereka bukan hanya para perokok (konsumen). Para penjual, pemroduksi bahkan para petani tembakau dan cengkeh, juga turut mereka kriminalkan.  Seolah pihak-pihak yang terlibat dalam aktivitas rokok baik itu konsumen, produsen, penjual, buruh upahan hingga petani yang menanam tembakau dan cengkeh merupakan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap terganggunya kesehatan masyarakat.

Rokok, terutama rokok kretek Indonesia, kini secara sepihak disudutkan oleh mereka yang anti rokokTuntutan utama dari pihak yang anti rokok ini adalah membatasi produksi, distribusi dan konsumsi rokok, terutama kretek, sebesar-besarnya sehingga pada akhirnya rokok kretek Indonesiaa, benar-benar lenyap dari peredaran.

Bahkan lebih jauh, usaha untuk membatasi (rokok) kretek dalam berbagai sektornya itu diwujudkan dalam berbagai bentuk regulasi atau peraturan, misalnya, peraturan dilarang merokok di tempat-tempat umum dan sebagainya. Padahal dalam negeri sendiri (rokok) kretek merupakan pemasok pajak terbesar.  Bahkan banyak beasiswa dan even–even seni dan olahraga yang disponsori oleh perusahaan (rokok) kretek.

Belakangan BPJS yang mengalami kerugian justru ditanggulangi lewat dana cukai (rokok) kretek. Ini aneh!. Tidak suka (rokok) kretek tetapi mau mengambil profite dari (rokok) kretek. Bahkan ada seorang mahasiswa yang anti rokok tetapi dia ikut menikmati beasiswa dari salah satu perusahaan ( rokok) kretek. Apakah tindakan seperti ini sehat?

Persaingan Pasar

Satu hal yang menjadi persoalan dalam polemik rokok ini adalah soal isu yang dimainkan oleh pihak-pihak tertentu di balik gerakan anti merokok/mengkretek. Masalah utama yang ada di balik gerakan anti merokok ini bukan semata persoalan kesehatan, melainkan persaingan ekonomi dan perdagangan, sebab geliat kampanye anti merokok yang sudah melibatkan intervensi negara melalui sejumlah peraturan dan regulasi ini lebih disebabkan oleh usaha untuk memperebutkan pangsa pasar; untuk memperebutkan konsumen.

Pada dasarnya, negara-negara maju, yang dikenal sangat getol berkampanye anti rokok, sepenuhnya tidak anti rokok. Produksi rokok terbesar justru ada di negara-negara maju. Di balik kampanye anti rokok, negara-negara maju itu berambisi ingin menguasai pangsa pasar dunia bagi produk rokoknya sekaligus menggilas produk-produk rokok di negara berkembang, yang kalau di Indonesia adalah rokok kretek. Di dalam buku Kriminalisasi Berujung Monopoli (2011:17) disebutkan data menarik bahwa ada lima perusahaan rokok terbesar di dunia yang memproduksi rokok dan sekaligus menguasai pangsa pasar global, yaitu National China Monopoli Tobbaco Company (menguasai 41 %), Philip Morris International (16 %), Britis American Tobacco /BAT(13 %), Japan Tobacco (11 %) dan Imperial Tobacco (6 %).

Selain itu, dan ini liciknya, bahwa negara-negara maju itu juga banyak memberikan subsidi terhadap produksi rokok mereka. Uni Eropa misalnya selama beberapa dekade telah menerapkan kebijakan subsidi untuk meningkatkan produksi tembakau. Ada delapan negara yang berada di bawah rezim Uni Eropa yang menerapkan subsidi bagi peningkatan produksi rokok: Austria, Belgia, Prancis, Jerman, Yunani, Italia, Portugal dan Spanyol. Begitu juga dengan Amerika Serikat. Amerika yang dikenal sebagai penghasil tembakau terbesar di dunia, pada tahun 2009 telah memberikan subsidi 203 juta dollar AS yaqng sebagian besar subsidi itu diterima perusahaan-perusahaan rokok besar yang ada di AS (Daeng, dkk., 2011:35 dan 36).

Dari keterangan tersebut menunjukkan bahwa negara-negara maju yang selama ini menggelar kampanye anti merokok atau anti tembakau di negara-negara berkembang seperti Indonesia, sesungguhnya tidak anti rokok. Negara-negara maju itu tahu bahwa rokok adalah komoditas paling menguntungkan untuk mengeruk pundi-pundi dollar. Tembakau sendiri adalah “emas hijau” yang bisa menghasilkan keuntungan besar, baik bagi perusahaan maupun bagi negara.

Karena itu alih-alih melarang dan menghentikan rokok, negara-negara maju yang dikenal sebagai produsen rokok dan tembakau terbesar di dunia semacam Amerika itu justru memberikan subsidi kepada perusahaan rokok dan petani tembakau yang ada di negeri itu. Lalu kenapa negara-negara maju itu, khsusunya Amerika, melakukan kampanye anti rokok di negara-negara Dunia Ketiga atau negara-negara berkembang, khususnya di Indonesia?  Jawabnya sekali lagi jelas: mereka hendak memperluas pangsa pasar bagi produk-produk rokok mereka. Khusus di Indonesia, supaya produk-produk tembakau dari negara-negara maju itu laku dan menguasai di pasar Indonesia, maka  di antara “strategi marketing” mereka adalah membunuh rokok-rokok lokal.

Salah satu sasaran rokok lokal yang hendak digulung paksa oleh berberapa korporasi rokok internasional tersebut adalah rokok kretek khas Indonesia. Dengan alasan kesehatan, rokok kretek kini hendak dimatikan produksi dan distribusinya. Rokok kretek yang merupakan hasil perpaduan antara tembakau dan cengkeh sehingga memunculkan rasa yang khas Nusantara diklaim lebih membahayakan kesehatan bila dibandingkan rokok putih hasil produksi para korporat rokok luar negeri semacam Philip Morris dan BAT.

Di sisi lain perusahaan farmasi juga ikut bermain. Dalam hal ini, perusahaan farmasi juga turut aktif menjadi agen penjual nikotin, yang kalau di Indonesia akan bersaing dengan perusahaan-perusahaan rokok kretek. Sebagai upaya untuk turut serta menggilas rokok, terutama kretek yang ada di Indonesia, perusahaan-perusahaan farmasi itu telah memproduksi obat-obat dan suplemen sebagai pengganti rokok dan/atau kretek. Dalaam rangka memasarkan produk-produknya inilah perusahaan-perusahaan farmasi dunia turut membiayai gerakaan dan kampanye anti rokok di berbagai dunia, termasuk di Indonesia. Jika kampanye ini diberjalan di Indonesia, maka sasarannya jelas rokok kretek, sebab rokok khas Indonesia ini dikenal mempunyai pangsa pasar yang besar; konsumennya di dalam negeri sungguh luar biasa.

 Perusahaan farmasi dalam usahanya melakukan kampanye anti rokok atau yang belakangan diperluas menjadi gerakan anti tembakau itu juga menjalin kerjasama dengan lembaga-lembaga lain atau LSM yang sevisi. Salah satu LSM yang turut melakukan gerakan anti merokok/mengkretek secara sistematis adalah Bloomberg Initiative, sebuah LSM yang didirikan oleh mantan walikota New York, Michael Bloomberg. Lembaga ini telah mengucurkaan dana dalam jumlah besar ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia, untuk memerangi (rokok) kretek bahkan tembakau.

Sudah sering terdengar, di antara beberapa orang telah menyuarakan agar para petani tembakau di Indonesia berhenti menanam tembakau dan mengkonversinya ke tanaman lain seperti  sawi atau kubis. Akan tetapi, kenyataan membuktikan bahwa beberapa tanah pertanian yang sudah berpuluh-puluh tahun ditanami tembakau, seperti yang ada di Temanggung, Jawa Tengah tidak cocok untuk ditanami tanaman lain, apalagi sawi dan kubis. Selain itu, harga tembakau juga jauh lebih tinggi dari harga sayuran. Kalau misalnya para petani tembakau beralih ke tanaman lain, lalu keuntungan mereka merosot, apakah pemerintah atau LSM anti tembakau itu bersedia memberikan ganti rugi kepada para petani tembakau tersebut? Jawabnya jelas: imposibel.

Intinya, untuk memperluas pangsa pasar, rokok putih produksi asing, seperti Marlboro, Lucky Strike dan sebagainya dianggap lebih aman daripada rokok kretek.  Inilah salah satu bentuk kelicikan perdagangan global di balik kampanye anti rokok kretek sedunia. Hingga sekarang gerakan-gerakan anti rokok ini terus hidup bahkan mulai menelusup ke sejumlah lembaga mulai dari lembaga-lembaga pemerintahan, ormas keagamaan hingga universitas.

Berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk menekan laju produksi dan konsumsi rokok kretek di tanah air, namun usaha mereka nampaknya sia-sia karena angka perokok kretek di Indonesia tetap tinggi. Belakangan ada isu bahwa cukai rokok di Indonesia akan dinaikkan sehingga harga rokok akan semakin mahal. Dengar-dengar, jika kebijakan ini terwujud bisa jadi harga rokok rata-rata akan di atas Rp.50.000,-. Benarkah demikian?

Kalau toh isu kenaikan cukai itu benar, maka tidak mungkin tradisi mengkretek di Indonesia akan berkurang, apalagi musnah. Kretek adalah tradisi yang sudah mendarah daging dalam diri manusia Indonesia. Karena sudah menjadi tradisi atau kebiasaan yang sulit ditinggalkan, masyarakat Indonesia senantiasa kreatif untuk mensiasati kendala-kendala mengkretek, termasuk dalam kendala ekonomi. Jika tidak mempunyai uang, orang Indonesia tidak lantas berhenti merokok/mengkretek tetapi mencari rokok kretek yang murah.  Kalau masih tidak ada rokok kretek murah, mereka akan bikin rokok kretek sendiri dengan citarasa lokal. Kalau bikin rokok sendiri dilarang juga, mereka masih bisa bikin Tengwe (mengklinting dewe) dengan modal kertas koran dan tembakau plus cengkeh buatan sendiri.  Dengan kreatifitas seperti ini, para korporasi rokok asing dan LSM-LSM serta rezim kesehatan yang hendak membunuh kretek di Indonesia, akan stress sendiri.

Ayo gencarkan terus kampanyemu dan guyurkan sebesar-besarnya uangmu untuk membungkam rokok kretek kami, maka kami wong Nuswantara akan tetap dan terus mengkretek. Sudah banyak produk-produk andalan kami, mulai dari jamu, minyak goreng dan sejenisnya yang kalian libas dengan produk-produk kalian. Sekarang kretek adalah di antara sedikit yang masih tersisa dari kami, dan kini masih hendak kalian libas juga dengan cara-cara kalian yang licik melebihi iblis manapun. Tidak akan pernah berhasil kalian anak cucu kaum penjajah, penindas dan penggarong, menghentikan kami, wong Nuswantara, untuk terus menyulut dan menghisap kretek.

*Muhammad Muhibbuddin adalah penulis lepas tinggal di krapyak.
https://sastra-indonesia.com/2020/04/di-balik-kampanye-anti-rokok-kretek-internasional/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar