Muhammad Antakusuma
25 Marco, menindaklanjuti video call yang dilakukan
saudara Zahid Asmara terhadap Anta Kusuma, yang terputus saat azan Magrib,
dimana dalam panggilan salat tersebut sudah mengandung ajakan untuk salat di
rumah.
Zahid ingin masukan untuk Youtube Kaliopak,
yang jujur sampai saat ini mungkin bisa dihitung jari berapa kali saya
membukanya, yang dari itu tentu lebih sedikit saya membukanya dengan mencuci
tangan terlebih dahulu. Zahid meminta pendapat tentang bagaimana isi youtube
tersebut. Ya tentu saja saya senang memberi masukan meski tanpa bayaran. Mereka
adalah kawan, saya diberi Yang Maha Kuasa
pengetahuan tentang media, dan saya merasa masukan saya banyak benarnya
berdasar pengalaman yang sudah-sudah, ketika
saya menjadi “konsultan”.
Kami sudah berbicara agak lama dengan Whatsapp video
call sebelum magrib. Dan saya tahu Zahid mencatatnya, sehingga tak perlu saya
ulangi di sini. Yang masih menggantung adalah pertanyaan Zahid tentang
bagaimana nasib program Getuk Tular dan program Serambi? Apakah disatukan saja
atau bagaimana? Sebagai latar belakang, Zahid gelisah dengan konten di Youtube
Kaliopak yang begitu banyak. Ini bagus. Jika pembuat konten sudah gelisah,
kemungkinan besar yang menikmati juga begitu.
Dalam keadaan Onar-19 seperti ini, saya memprediksi
metode media dan kontennya akan berubah. Itu sudah terjadi. Jika Anda mengikuti
program-program talk show ringan (“late night show” dan sejenisnya) di Amerika
yang menjadi pusat media dunia lewat Youtube,
Anda akan tahu bagaimana sekarang mereka membuat “show” dan bagaimana isi
shownya. Kenapa saya berbicara tentang program ringan? Karena itu sesuai dengan
apa yang selama ini dilakukan Youtube Kaliopak. Tidak, saya tidak berbicara
tentang media berita yang mana di situasi seperti ini, sesungguhnya mereka
sudah bersaing dengan info-info langsung yang bisa didapatkan lewat organisasi
dunia, pemerintah, bahkan dari laporan masyarakat sendiri. Bagaimana industri
media visual akan bertahan ke depannya, jika
situasi masih seperti ini? Jika mereka masih mempertahankan jurnalisme seperti
sekarang, itu akan ketinggalan. Mereka kemungkinan besar akan menggeser fokus
ke program laporan-laporan yang lebih
mendalam, dan program-program ringan yang
menghibur. Nah, karena Kaliopak tidak bisa melakukan yang pertama—dan tentu
saja tak perlu melakukan itu, karena sudah
banyak yang melakukan—maka masuklah ke yang kedua: program ringan yang mendidik
sekaligus menghibur. Kenapa itu cocok? Kalian berkaca saja, itu semua ada dalam
diri kalian sebagai anak muda terpelajar yang bersentuhan dengan nilai seni dan
kebudayaan. Berangkat dari itu, maka akan mudah menjalankannya. Satu hal yang
mungkin media lain tidak punya, yaitu kalian punya nilai
kepesantrenan. Mantap kan? Nah, terus bagaimana praktisnya?
Menjawab pertanyaan Zahid,
apakah program Getuk Tular dan Serambi perlu disatukan? Tanpa saya perlu
melihat channelnya kembali (untuk hemat data),
hanya coba berdasar ingatan, jawabannya: iya. Kenapa? Karena itu akan menghemat
ide dan energi, terlebih di situasi begini. Jadi, alternatifnya gimana? Sekali
lagi, ide ini mahal, tapi karena kalian kawan, aku bisa apa?
Fokuskan Youtube Kaliopak untuk
dua program saja. Yang pertama adalah Live Ngaji Dewa Ruci. Yang ini nanti kita
bisa bahas lebih lanjut bagaimana cara mengemas siarannya agar tak membosan,
sehingga para anak muda punya alasan melihat
ini daripada mencet-mencet IGnya. Yang ini, saya mungkin sudah akan meminta
bayaran yang berupa kasih sayang. Yang kedua adalah coba program baru yang
bernama “DAILY SHOW X-OPAK”. Isinya
adalah gabungan spirit dari Getuk Tular, Serambi, dan kondisi terkini. Langsung
saja kita bayangkan isinya. Dua orang presenter duduk di kursi panjang di
Pendopo yang selalu menjadi latar program. Warna program ini sebaiknya komedi,
karena jika informasi bisa diselipkan dalam bentuk komedi, kurasa orang yang
melihatnya akan mendapatkan dua manfaat sekaligus: informasi yang bernilai serta
ketidaktegangan. Dalam kondisi seperti ini, dua hal itu
menjadi penting kan? Dengan durasi program 5 menit setiap kali tayang, apa saja
isinya? Presenter akan membuka program dengan berita-berita yang bergentayangan
di dunia dan Indonesia. Mereka akan komentari itu di mana kemudian bisa masuk
grafis-grafis yang mendukung komentar mereka. Setelah itu,
bisa masuk ke wawancara tokoh yang berhubungan dengan hal yang sedang dibahas,
bisa lewat video, audio, atau rekaman yang dikirimkan narasumber lewat rekaman
dirinya melalui Whatsapp. Betul, tugas editor akan menjadi sangat-sangat
penting di sini untuk menjaga visual dan aliran-aliran informasi yang
ditayangkan. Setelah itu, bisa masuk ke seharian di Pondok
Kaliopak (2 menitan saja, yang bisa berisi tips masak pada
situasi seperti ini. Persiapkan rekamannya di dapur sehari sebelum pengambilan
gambar presenter. Bisa juga tayangan bagaimana warga menghadapi kondisi ini
atau tips-tips kesehatan oleh teman-teman Kaliopak,
yang memperagakan gerak kesehatan di pinggir sungai, dll, dan lalu lalu).
Setelah itu, kembali ke presenter yang menutup program. Ini sudah “pepak
banget,” yang mana hampir semua ide untuk
memberikan yang terbaik ke masyarakat secara visual dalam
kondisi seperti ini sudah ada di dalam program tersebut.
Jangan kepanjangan, orang akan bosan dan kita harus tahu diri juga belum
menjadi orang terkenal, sehingga berangkatlah dari yang
pendek-pendek, tapi masuk ke relung-relung hati pemirsa. Dan aku membayangkan
setiap kali program ini tayang, dibutuhkan waktu setidaknya dua hari untuk
eksekusianya. Satu hari untuk siapin bahan yang akan diperbincangkan, satu hari
yang lain untuk mengambil gambar presenter yang akan ngoceh. Pada kondisi
seperti ini, aku cuma ingin berpesan: santai saja dan jaga kesehatan.
Salam Sabun!
Anta, di rumah
Kotagede.
http://sastra-indonesia.com/2020/03/daily-x-opak/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar