Semangat Indonesia Seorang Intelektual Kampung

Sapto HP
Antara, 5 Feb 2013

Buku “Burung Burung Cakrawala” karya Mochtar Pabottingi membawa ingatan kepada kekuatan lagu “Tanah Airku” dan “Rayuan Pulau Kelapa” dalam menanamkan kecintaan pada Indonesia.

Lagu karya Ibu Sud dan Ismail Marzuki tersebut menggambarkan Indonesia sebagai negeri tempat kembali setelah menjelajahi negeri-negeri mashyur.

Seperti gambaran dari kedua lagu itu, Mochtar Pabottingi juga selalu pulang ke Indonesia setelah berkelana ribuan kilometer ke Amerika Serikat walau tawaran untuk menetap di negeri impian itu menggoda batinnya.

Mochtar dikenal sebagai peneliti politik di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jauh sebelum itu, dia menghasilkan puisi dan cerpen yang disiarkan di sejumlah penerbitan utama.

Dalam autobiografi yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama tahun 2013, secara lugas dan argumentatif Mochtar bercerita panjang lebar mengenai pergulatan batinnya ketika harus memilih kembali ke Indonesia atau menetap di Amerika Serikat setelah menyelesaikan studi di negeri makmur itu.

Dengan gaya Gollum, makhluk aneh dalam novel epik fantasi “The Lord of The Ring” karya JRR Tolkien, dia berdialog dengan batinnya sendiri.

“Kamu akan menyesal.”
“Tidak. Aku tidak akan menyesal.”
“Kamu takkan tahan di Indonesia. Keadaannya runyam dan banyak yang tak beres di sana.”

Begitu sebagian dialog batinnya.

Ada dua tulisan yang memberatkan hatinya ketika dia memutuskan untuk kembali ke Tanah Air, “Si Anak Hilang” karya Sitor Situmorang dan “Si Malin Kundang” karya Goenawan Mohammad.

Awalnya, dua tulisan itu bagi Mochtar merupakan contoh pengelana sejati. Pengelana yang tidak akan pulang, seperti akhir dari puisi “Si Anak Hilang”:

Malam tiba ibu tertidur
Bapak lama sudah mendengkur
Di pantai pasir berdesir gelombang
Tahu si anak tiada pulang.

Panjang lebar Mochtar bercerita tentang pergulatan batinnya soal dua tulisan itu. Tulisan yang menguatkan jiwa pengelana yang terbina sejak dia masih remaja dan menjadikan bentangan laut di Pantai Losari, Makassar, sebagai tempatnya melarikan diri dari keresahan.

Tapi Mochtar adalah pembaca segala. Dia tahu keragaman dan kekayaan Indonesia. Bukan hanya keragaman suku dan kekayaan alamnya, tapi juga kekayaan dan keragaman pemikiran tokohnya.

Dia ingat Rendra yang berkata, “Di tiap negara ada penjara.”

Ketika itu Rendra ditawari untuk menetap di Amerika Serikat. Iming-imingnya, di Amerika, Rendra akan lebih leluasa berkarya.

Sedang ketika itu, tahun 1960-an, menurut Mochtar, pemerintah orde baru sedang doyan memenjarakan orang-orang berpikiran merdeka dan kritis.

Dia juga ingat banyak tokoh negeri ini yang mendahului dia pergi ke negeri jauh, seperti HB Jassin, Budi Darma, Romo Mangun, hingga NH Dini.

Bagi Mochtar, mereka ibarat flamingo, yang terbang menjelajahi cakrawala dan selalu kembali ke sarang tempat mereka tumbuh.

Dari pengalaman masa kecil, masa remaja, hingga pergulatannya pada pemikiran para intelektual Indonesia, dia pun membeberkan pertanyaan sendiri mengenai tulisan Sitor dan Goenawan Mohammad.

Bagian ini memperlihatkan kemampuan Mochtar sebagai penganalisis yang kuat. Dia melontarkan fakta, kemudian melemparkan pertanyaan, dia berikan analisis berdasarkan fakta lain, dan mengambil kesimpulan.

Ada kebebasan berpikir, kemerdekaan melontarkan pendapat, dan kesantunan yang diperlihatkan Mochtar.

Hal itu juga memperlihatkan perbedaan buku biografi Mochtar dengan banyak biografi lain. “Burung Burung Cakrawala” bukan sekadar cerita kisah hidup sang penulisnya, tapi juga buah pikiran Mochtar yang hidup berbarengan dengan perkembangannya.

Layaknya dalam buku ilmiah, Mochtar menuliskan pandangannya mengenai pemikiran banyak ilmuwan, misalnya mengenai pemikiran Nurcholis Madjid. Itu ketika dia dibenturkan oleh kenyataan kakunya pandangan Muslim asal Timur Tengah yang dia temui di Islamic Centre di Hawaii.

Ada peristiwa yang menggetarkan kebiasaan toleransi Islam Indonesia, yang tertanam dalam hati Mochtar ketika itu.

Sebagai intelektual yang terpapar banyak pemikiran dan pengalaman toleransi, dia pun menguraikan pemikirannya yang tidak bisa menerima sikap kaku yang diperlihatkan mahasiswa asal Timur Tengah yang tidak mau berjabat tangan dengan orang tak seagama itu.

Sikap ekstrem itu membuat Mochtar bersikap ekstrem pula: dia tidak mau lagi berkumpul di Islamic Centre.

Jujur

Mochtar menyatakan dia menyukai Amerika sama dengan dia menyukai Indonesia. “Aku menyukai dua-duanya….” Itu jawaban Mochtar saat ditanya oleh seorang petinggi sebuah universitas tempat dia belajar.

Lontaran jujur Mochtar bukan hanya ketika dia melontarkan kesukaannya pada kedua negeri itu.

Sejak awal tulisannya, ketika dia masih seorang anak kampung, begitu dia menjuluki dirinya sendiri, ada kejujuran yang polos dalam setiap ceritanya.

Kejujuran itu pula yang terlihat ketika Mochtar mengatakan bahwa dia seumur hidup berutang budi kepada mayoritas rakyat Amerika yang pajaknya membiayai lembaga-lembaga yang memberi dia beasiswa.

Rasa cinta itu juga beriringan dengan analisisnya yang mengatakan bahwa sejak tahun 1950-an Amerika makin lama makin kerap mengkhianati semangat dari prinsip-prinsipnya sendiri dalam The Declaration of Independence (Deklarasi Kemerdekaan).

Pergulatan batin Mochtar sebelum kembali ke Indonesia merupakan puncak ketegangan dari sekian banyak ketegangan yang ada dalam biografi yang ditulis sebagai sebuah novel itu.

Kisah masa kecil, keluarga, kegiatan berkesenian yang berseberangan dengan orang-orang komunis pada masa remaja, hingga kehidupan Yogyakarta yang menguatkan keIndonesiaannya, adalah ancang-ancang Mochtar mencapai puncak itu.

Akhirnya, bagi Mochtar, pengelanaan di Amerika selama 10 tahun tak mengubah dia sebagai “anak kampung”.

Dia berkata, “Bagiku, Tanah Air adalah kumulasi kampung.” Dan, itulah Indonesia.

Keahlian Mochtar sebagai penulis puisi dan penulis cerpen bercampur baur dengan keahliannya sebagai peneliti yang jago menganalisis.

Cerita dia tentang kesukaan bermain layangan saat di Barebba, di ujung paling selatan Sulawesi Selatan, sama ringannya dengan cerita dia mengenai pergulatan pemikiran sejumlah ilmuwan.

Kejagoannya bermain kalimat efektif membuat kota kelahirannya, Barebba, di Sulawesi Selatan, nyata keindahannya. Begitu juga Waikiki, Hawaii, tempat Mochtar mengajak bermain anak-anak dan istrinya semasa kuliah di sana.

Daya ingat yang kuat dan kelihaian Mochtar menulis juga menghadirkan ketegangan ketika dikejar seorang suami Bugis karena istrinya secara tak sengaja terkena lontaran batu dari ketapel yang dimainkan Mochtar remaja.

Ketegangan yang kuat juga hadir ketika Mochtar terjebak di tengah salju sepulang membeli popok bayi di sebuah toko di Amherst, Massachusetts.

Dua peristiwa tersebut bisa menjadi akhir hidup lelaki yang kini dikenal luas sebagai cendikiawan terkemuka itu. Dan jika itu terjadi, maka tak mungkin ada kisah panjang perjalanan hidupnya yang penuh warna.

Jika itu terjadi, tentu saja Mochtar tidak bisa menceritakan perkenalannya dengan Nahdia, gadis keturunan Minang yang menjadi istrinya.

Perjalanan kisah cinta dengan Nahdialah yang menjadikan autobiografi Mochtar berjalan sebagai novel sesungguhnya. Bagian Nahdia tersebar di banyak tempat di novel itu, menghadirkan kegenitan, keharuan, dan keliaran.

Mochtar juga tidak pelit bercerita tentang percintaannya dengan sang istri. Ada adegan orang dewasa dalam novel ini, yang juga ditulis dengan indah.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/02/semangat-indonesia-seorang-intelektual.html

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Pasar Seni Indonesia