Langsung ke konten utama

Coming Soon: Monolog “Tukang Cuci” karya Mardi Luhung

Sahlan Bahuy
http://sahlanbahuy.wordpress.com

Awal November 2011, Mainteater Bandung berencana menggelar acara bertajuk “Mainteater Festival” (Mainfest). Perhelatan teater ini akan digelar di kota Bandung. Acara ini menyajikan beberapa pertunjukan teater yang diangkat dari naskah baru alias belum dipentaskan. Tema utama yang diangkat adalah permasalahan urban. Ada 4 sutradara yang akan menggarap, yaitu: Wawan Sofwan, Ign. Arya Sanjaya, Sahlan Bahuy dan Heliana Sinaga. Diantara kelima sutradara itu, Sahlan Bahuy akan mementaskan monolog “Tukang Cuci” adaptasi cerpen karya Mardi Luhung dengan judul yang sama.

Sebuah kisah jenaka karya Mardi Luhung tentang paradox relasional lazimnya pasangan suami istri. Dikemas meracau dengan menceritakan segala tetek bengek yang berkaitan dan atau tidak berkaitan sama sekali dengan pakaian istrinya yang sedang dicuci.

Apa yang terbayang dalam benak anda ketika mendengar kata “tukang cuci”: profesi seorang perempuan tua yang memberikan jasa mencuci pakaian siapa pun yang membutuhkan jasanya? Salah!

Tukang cuci yang satu ini adalah laki-laki bernama Tukang Cuci yang hanya mencuci pakaian istrinya. Atas dasar kesadaran tak terumuskan terhadap istrinyalah yang membuatnya rela menjadi tukang cuci. Meski istrinya kini menjelma ikan paus, penyuka aksesoris mawar yang menempel pada pakaian, pengoleksi bra ekstra besar, pemilik rok yang terbuat dari bahan seragam serdadu, dan doyan minta dipulangkan pada orang tuanya yang menjadi pengungsi tetap korban bencana.

Monolog ini akan dimainkan oleh seorang aktor ekploratif, M. Aditya. Seorang aktor serba bisa, lahir dan dibesarkan oleh Teater Lakon UPI Bandung. Beberapa lakon pernah dimainkannya bersama Teater Lakon dan Mainteater. Pada tahun 2010 mendapatkan penghargaan aktor terbaik dalam Festival Drama Bahasa Sunda (FDBS) ke XI.
Didukung juga oleh penata artistik muda yang tengah naik daun, Deden Jalaluddin Bulqini. Keahliannya menjadi penata artitik dan lampu telah membawanya berkeliling Eropa dan Asia. Penata kostum: Lela Nurlaela, mantan mahasiswa yang beberapa bulan lalu telah meraih gelar sarjana. Penata Musik: Enry Johan Jauhari, mahasiswa pascasarjana UPI yang beberapa tahun terakhir aktif terlibat dalam pementasan teater di kampus maupun di luar kampus. Pada tahun 2011, keahliannya menjadi penata musik handal dibuktikan dengan meraih penghargaan sebagai penata musik terbaik dalam Festival Teater Mahasiswa Nasional 5 (FESTAMASIO 5) di Palembang. Selain mahir bermain piano, ia pun mahir menjadi komposer, puluhan karya telah ia ciptakan.

Demikianlah sedikit gambaran tentang “Tukang Cuci” karya Mardi Luhung yang akan dipentaskan awal November 2011. Pastikan anda menjadi bagian apresiator kami. Salam


Dijumput dari: http://sahlanbahuy.wordpress.com/2011/08/30/coming-soon-monolog-tukang-cuci-karya-mardi-luhung/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

FILSAFAT SASTRA

Mochammad A. Tomtom
Sastra-indonesia.com

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Filsafat dan sastra adalah salah satu mata rantai dalam lingkaran pendidikan bahasa dan sastra. Akan tetapi banyak hal yang belum dapat dipahami dengan baik oleh mahasiswa atau pemerhati bahasa dan sastra dalam ranah-ranah tersebut. Oleh sebab itu lingkaran pendidikan bahasa dan sastra terputus.

Belajar Manusia Kepada Sastra

Untuk 50 tahun Majalah Horison, 26 Juli 2016 Emha Ainun Nadjib caknun.com
Sastra Generasi Millenial
Sejak hampir dua dekade yang lalu lahir Generasi Millenial, juga dalam sastra. Kaum muda usia 18 sd 39-an tahun yang seakan-akan merupakan “putra langit”, bukan anak-anak yang dibesarkan oleh tata nilai kepengasuhan di bumi. Memang indikator kelahiran adalah semakin dominannya peradaban IT, tetapi tidak bisa disebut sebagai kontinyuitas dari karakter kebudayaan generasi sebelumnya yang melahirkan IT. Anak-anak itu seperti makhluk baru yang lebih genuin, seolah-olah ada pengasuh yang lain yang tidak berada di bumi.

Melirik Dunia Kesunyian Nurel Javissyarqi

Lewat Waktu Di Sayap Malaikat, I-XXXIX dalam Antologi Puisi “Kitab Para Malaikat” Awalludin GD Mualif
1/ Selepas mengaduk secangkir kopi saya pun menyalakan laptop, kemudian membuka windows media player dan mengisinya dengan beberapa lagu yang saya kehendaki. Sesaat setelah itu saya terkenang dengan salah satu buku antologi puisi bertajuk “Kitab Para Malaikat” buah karya Nurel Javissyarqi. Entah mengapa, malam ini kenang dalam pikir saya tertuju pada karya itu. Baiklah, gumam saya lirih.