Padamu Negeri

Eko Hendri Saiful *
_Ponorogo Post

Sejarah telah mencatat sebuah paham yang lahir dari keterbelakangan nurani zaman kolonialisme. Paham itulah yang membentuk paradigma masyarakat sebagai solusi atas penjajahan yang mengendap selama tiga ratus lima puluh tahun. Pada akhirnya mereka yang berjasa, setia dan berani, gugur oleh kekuatan paham itu.
Hingga kini paham itu masih dimiliki sebagian masyarakat di negeri ini. Namun keperkasaannya tak seperti dulu. Keberadaannya menempati bilik jantung rakyat dan mulai tergusur oleh egoisme dan fanatisme semu. Sekarang lumpuh, cacat, dan tak mampu mengeluarkan penawar bagi mereka yang berduka. Tongkat bagi mereka yang cacat mata. Dan kursi roda bagi mereka yang lumpuh. Paham dalam deskripsi ini dikenal dengan nama nasionalisme.

Tahun 1945 menjadi saksi akan lahirnya sebuah orok negara baru.Negara yang dikenal dengan sebutan nusantara. Dalam wajah internasional dipanggil sebagai Indonesia. Berjuta-juta orang telah gugur akibat kesetiaan pada nusantara. Mereka rela mengorbankan harta, benda serta nyawa demi tanah air. Berharap bila suatu ketika akan lahir masa depan yang tak pernah meninggalkan mereka. Cita-cita mereka melihat sang putra mengenang kearifan mereka. Seandainya ketika itu mereka egois dan memilih zaman perbudakan, maka Indonesia takkan pernah memiliki akta kelahiran. Namun nurani mereka lebih memilih masa depan.

Kini era globalisasai. Teknologi berkembang mengikuti alur paradaban. Mereka menyebar seperti virus yang bersiap melumpuhkan hati, paru-paru dan jantung. Dua masalah muncul dalam pemikiran masyarakat . Mendukung atau menantang? Tentunya pertanyaan ini lahir dari sisi negative dan positifnya.

Setiap warga Negara tentu pernah memimpikan negerinya. Negara yang memiliki peradaban teknologi. Revolusi demokrasi yang terus berorasi. Hal ini merupakan landasan jiwa rakyat yang ingin mempersembahkan sesuatu untuk padamu negeri. Rakyat terus berharap agar pemerintah mampu beradaptasi dengan teknologi. Hingga nurani mereka sadar akan eksistensi rakyat.

Seiring dengan perkembangan teknologi yang sudah menguasai negeri kita, satu hal menyadarkan kita. Negera kita memiliki kearifan local. Kearifan yang menentukan derajat Indonesia di mata dunia. Rakyat pasti tidak ingin kearifan tersebut diganggu oleh Negara yang berkepentingan atas Indonesia. Seperti halnya negeri tetangga yang begitu ngotot meminta warisan hak kita. Ajaibnya justru hal itu melahirkan jiwa padamu negeri yang diteriakkan dengan fonologi “ganyang Malaysia”

Otak kita tak akan mampu menebak . Sampai kapan Indonesia akan langgang berdiri. Mungkin esok kita sudah pecah menjadi dua Indonesia seperti Korea. Mungkin juga ada dua pemerintahan seperti Pantai Gading. Koruptis dan nepotis. Secara perlahan memang kita sudah mengawali. Berawal dari oknum politisi yang berebut hati rakyat, kontraksi KPK melawan POLRI, terakhir kasus LPI melawan PSSI. Padahal mereka sama-sama mengaku nasionalisme. Mungkinkah nasionalisme telah melahirkan egoisme. Atau mereka hanya mengaku nasionalis?

Sepertinya mereka lupa akan pesan Dr. Joe Rubina dalam bukunya yang berjudul The Magic Lateran bahwa untuk hidup lebih baik harus menghayati orang lain. Menghilangkan segala bentuk keegoisan yang menumpuk hingga membunuh nasionalisme.

Piala AFF 2010 telah usai kita lewati. Sekalipun prestasi tertinggi belum kita raih namun setidaknya ini membangkitkan kembali jiwa nasionalisme yang roboh oleh egoisme. Sosok yang dianggap pahlawan adalah Irfan Bachdim dan Cristian Gonzales. Dua nama ini berkembang menjadi selebritas lapangan hijau. Keduanya terbukti telah menunjukkan jiwa padamu negeri. Harapan kita hal itu tak pernah hilang.

Namun kepopuleran mereka terhenti di perempatan jalan. Seluruh media masa nasional sepakat menggantinya dengan wajah yang dianggap lebih populer . Sosok itu adalah si anak hilang dari Tapanuli Gayus Tambunan. Kepopuleran Gayus melebihi Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Dia mampu menjadi selebritas lapangan meja hijau yang berhak mendapat Ballon Door. Mantan pegawai pajak ini telah menyalahgunakan azasinya untuk merobohkan norma masyarakat. Ia tidak hanya menorehkan luka di dada kapolri melain juga ribuan nurani rakyat yang tersayat olehnya. Pertanyaaannya, mungkinkah ini cara Gayus menunjukkan nasionalismenya?

Semua sepakat bahwa secara tidak sadar Gayus telah mengembalikan jiwa padamu negeri rakyat. Harapan mereka adalah hukuman untuk orang-orang seperti Gayus karena mereka tak rela bila negerinya terinjak-injak. Suatu ketika mereka akan muncul dengan demonstrasi penentangan sebagai wujud atas nasionalisme semu yang kerap di perlihatkan pemerintah. Dan kita kaum yang terinjak akan senantiasa siap menyerang mereka dengan mengawalinya ucapan lirih di jantung kita. Dari ku padamu negeri.

*) Wakil pimpinan redaksi majalah Mata Kata STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur.
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2012/08/padamu-negeri/

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Pasar Seni Indonesia