Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 30 September 2012

Lukisan Religius Tidak Hanya Kaligrafi

Dr. Agus Priyatno, M.Sn.
Harian Analisa, 12 Agt 2012

Kaligrafi merupakan senilukis religius paling dikenal dalam kebudayaan Islam. Umumnya kaligrafi Islam melukiskan teks-teks kitab suci Quran. Jika ditelusuri lebih jauh, sebenarnya lukisan religius tidak hanya kaligrafi, ada corak representasional. Lukisan jenis ini merepresentasikan wujud mahluk hidup seperti manusia, hewan, dan tumbuhan.

Lukisan representasional dalam senilukis Islam cenderung mengalami stilisasi dan deformasi bentuk. Sebagai contoh, masuknya Islam ke Tanah Jawa telah mengubah bentuk wayang yang aslinya mirip anatomi manusia, wujud wayang distilisasi dan dideformasi, hingga bentuknya tidak lagi menyerupai tubuh manusia. Stilisasi dan deformasi wayang justru memperindah wujud wayang.

Adanya pendapat sebagian ahli agama yang melarang penggambaran mahluk hidup, melahirkan corak senilukis representasional yang digayakan (distilisasi dan dideformasi). Larangan melukis representasional sendiri tidak ada tertulis dalam Quran, tetapi dalam hadis. Sebagian ahli agama tidak melarang penggambaran representasional untuk tujuan baik, seperti pendidikan umpamanya.
* * *

Lukisan representasional yang digayakan bisa dijumpai dalam kebudayaan dimana Islam menjadi agama mayoritas. Lukisan jenis ini sudah ada sejak beberapa abad lampau. Di zaman modern lukisan representasional tentang kisah para nabi, perjalanan haji, dan symbol-simbol Islam ada di sejumlah Negara. Di Indonesia, para pelukis banyak menciptakan lukisan representasional religius tersebut bercorak ekspresionis, dekoratif, realis, hingga surealis.

Pelukis Indonesia pencipta lukisan religius representasional antara lain Affandi, Widayat, Amri Yahya, Agus Kamal, Pramono, Amang Rahman, Asnida Hasan dan Wasito. Mereka melukiskan kisah para nabi, kehidupan religius kaum muslim dan symbol-simbol Islam dalam lukisan representasional yang digayakan (distilisasi dan dideformasi).

Widayat pemilik "Museum Seni Rupa Haji Widayat" dikenal sebagai pelukis pertama di Indonesia yang melukiskan tema perahu Nabi Nuh. Lukisannya diciptakan tahun 1962. Lukisan tentang perjalanan gaib Nabi Muhammad SAW di malam hari dilukiskan dalam lukisan berjudul "Buraq", diciptakan tahun 1968. Selain lukisan tersebut, lukisan Widayat yang diciptakan tahun-tahun berikutnya bertema Kabah, Adam dan Hawa serta kisah Nabi Sulaiman dan hewan-hewan. Lukisannya representasional bercorak dekoratif dengan stilisasi dan deformasi pada objek-objek yang dilukis.

Affandi pelukis ekspresionis Indonesia melukiskan perjalanan religiusnya setelah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci. Lukisan berjudul "Kabah Mekah" bercorak ekspresionis diciptakan tahun 1981. Pelukis lain, Amri Yahya yang dikenal sebagai pelukis batik melukiskan pengalaman perjalanan haji dalam lukisan berjudul "Mekah". Lukisan ini bercorak representasional.

Agus Kamal pelukis Yogyakarta penerima penghargaan lukisan terbaik internasional melukiskan tema-tema religius dalam corak surealisme. Lukisannya antara lain berjudul Jam, Al-Ikhlas, Kekal dan Fana, serta Berdoa. Teks-teks dalam Quran menjadi bagian penting dalam lukisan-lukisannya. Tertulis dalam huruf Arab Alhamdulillah, Lailahailallah, Alahmdulliah, dan Subhanallah pada lukisan berjudul Jam Dinding. Angka jarum Jam menunjukkan angka satu tepat. Waktu salat Duhur.

Pramono pelukis realis Yogyakarta melukiskan suasana kehidupan anak-anak muslim. Anak-anak berdoa dan belajar membaca Quran adalah tema yang paling sering dia lukiskan. Lukisan berjudul "Ya Allah Ya Rabbi "melukiskan anak bersarung dan berpeci duduk bersila di atas sajadah memanjatkan doa. Tema lainnya tentang anak sedang belajar mengaji dilukiskan dalam lukisan berjudul "Thole Bejalar". Lukisan seorang anak sedang memandangi tulisan Iqra (dalam huruf Arab) dilukiskan dengan corak realis.

Wasito pelukis muda dikenal sebagai pelukis surealis. Lukisan-lukisannya antara lain berjudul "Dzikrullah" dan "Singgah Sejenak". Lukisan "Dzikrullah" melukiskan nelayan sedang berdzikir dalam sebuah bangunan tua, di depannya perahu bersandar di pantai. Lukisan berjudul " Singgah Sejenak" melukiskan sajadah dan tasbih tersampir di pintu bangunan. Suasana lukisannya hening, sunyi, dan kekhusukan orang-orang yang berdoa.

Amang Rahman pelukis Surabaya juga dikenal sebagai pencipta lukisan-lukisan religius, demikian pula pelukis Asnida Hasan dari Sumatera Barat, dan pelukis Harjiman dari Yogyakarta. Banyak pelukis yang menciptakan lukisan-lukisan religius representasional di Indonesia.
* * *

Islam berkembang sejak abad ke-7 di Mekah, kini telah menyebar hingga ke berbagai penjuru dunia. Islam merupakan agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk dunia. Islam berperanan besar dalam membentuk kebudayaan pemeluknya, termasuk seninya. Kebudayaan Islam (termasuk seni) terbentuk tidak lepas dari nilai-nilai Islam yang bermuara pada Quran dan Hadis.

Seni Islam kaya dengan nilai-nilai estetika, corak seni yang berkembang di suatu wilayah sepanjang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam tetap dipertahankan. Masuknya nilai-nilai Islam pada suatu wilayah memungkinkan terjadinya inovasi yang menghasilkan corak seni baru yang sangat kreatif. Seni Islam berkembang di sejumlah negara di benua Asia, Afrika, hingga Eropa.

*) Dosen pendidikan seni rupa di FBS Unimed dan pengelola Pusat Dokumentasi Seni Rupa Sumatera Utara.
Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/08/12/68390/lukisan_religius_tidak_hanya_kaligrafi/#.UGgNt67mUdg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar