Minggu, 17 Mei 2020

Warna Proses Kreatif Menulis Nezar Patria

Wawancara di grup facebook Apresiasi Sastra (APSAS) Indonesia
Nezar Patria, kelahiran Sigli, Nanggroe Aceh Darussalam 5 Oktober 1970, seorang wartawan, aktivis, dan penyair. Sekarang menjabat pemred The Jakarta Post; sejak tahun 2016, bergabung di koran berbahasa Inggris tersebut untuk platform digital, lalu awal 2018 ditugaskan memimpin versi cetaknya. Sebelumnya, wartawan di Majalah Berita Mingguan Tempo (1999-2008), tercatat salah satu pendiri portal VIVA.co.id (2008-2014), dan redaktur pelaksana. Tahun 2014-2016, jadi wakil pemimpin redaksi CNN Indonesia (Digital).

Karya jurnalistik investigasinya pernah memenangkan Tolerance Prize dari International Federation of Journalist (IFJ) bekerja sama European Council, Manila 2004. Jadi Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) 2008-2011, dan terpilih sebagai Anggota Dewan Pers, dua periode (2013-2019). Alumni Fakultas Filsafat UGM (lulus 1997), mendapat gelar M.Sc dari The London School of Economics (LSE), Inggris, untuk Studi Politik dan Sejarah Internasional, tahun 2008.

Selain organisasi jurnalis, kerap terlibat di berbagai riset politik. Akrab tema politik sejak masa mahasiswa, terutama aktif dalam gerakan mahasiswa pro demokrasi awal 1990-an hingga Reformasi 1998. Di masa itu sebagai Sekretaris Jenderal Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID), sebuah organisasi mahasiswa yang masuk daftar hitam rezim Orde Baru. Di dunia riset, kini tercatat selaku Dewan Redaksi di Jurnal Prisma, diterbitkan LP3ES. Pernah menjadi periset paruh waktu di International Crisis Group (ICG) Asia Tenggara (2004-2012).

Bersama Tia Setiadi, tahun 2017 mendirikan Circa di Yogyakarta; penerbit indie yang aktif menerbitkan buku fiksi dan non-fiksi bertema seputar jurnalisme, sastra, dan filsafat. Buku terbarunya sendiri ada dua; yang non-fiksi bertajuk “Keputusan Sulit Adnan Ganto” (Circa, 2017, ditulis bersama almarhum Rusdi Mathari), sebuah biografi seorang bankir yang jadi penasehat ekonomi bagi tujuh menteri pertahanan RI. Buku kedua, sehimpun puisinya yang dimuat Harian Kompas dan Koran Tempo, diterbitkan Diva Press, berjudul “Di Kedai Teh Ah Mei” (2018).
***
Nurel Javissyarqi: “Sebagai pemantik awalan saya bertanya Mas Nezar Patria, 1. Sejauh perjalanan yang sampean tempuh, apakah sebelumnya sudah pernah ‘nyemplung’ di dunia sastra, barangkali saat SMA atau jauh sebelum itu? 2. Menurut sampean, apakah kata-kata yang telah tergurat, sangat mempengaruhi kehidupan sang penulisnya? 3. Adakah hubungan rasa senyawa di antara kata dengan darah-daging perjuangan? Jikalau ada, seperti apakah pergumulannya, dan bagaimana menentukan waktu yang tepat, agar kata-kata tidak buyar dari ruhaniah maknanya, meski melewati rentang waktu peristiwa, dst...”
***

(I)
Nezar Patria: “Saya mengenal sastra saat duduk di bangku SMP. Bagian sekolah yang menarik perhatian saya ialah perpustakaan. Saya bisa menghabiskan jam waktu istirahat saya di ruang baca, menikmati berbagai macam bacaan, dan terutama yang mengasyikan adalah membaca buku-buku terbitan Balai Pustaka dan Pustaka Jaya. Saya membaca cerita klasik sastra Indonesia, dari Salah Asuhan, sampai karya A.A. Navis. Saya juga membaca sejumlah karya sastra terjemahan dari pengarang seperti Victor Hugo, Alexander Dumas, Dickens, dan Karl May.”

“Selain itu, di masa SMP, saya menggemari cerita di Majalah Kawanku dan Hai. Saya punya kebiasaan nongkrong di kedai loper koran di dekat sekolah, di pinggir pasar Peunayong, Banda Aceh. Si pemilik kedai seorang mahasiswa, dan ayah saya waktu itu berlangganan harian Kompas kepadanya. Karena harian terbitan Jakarta itu tiba siang hari di kota saya, maka sambil menunggu koran tiba, saya punya kesempatan membaca koleksi majalah dan komik di kedai itu.”

“Pemiliknya tak keberatan, dia malah senang, karena kadang saya membantunya menjaga kedai itu, kalau dia ada urusan lain, dan harus meninggalkan kedai selama dua sampai tiga jam. Pada saat itulah, saya masuk ke dunia cerita, entah membaca cerpen di majalah, koran mingguan, atau komik. Saya menikmati komik Indonesia, dari Hasjmi (Gundala), Wid NS, sampai dengan komik silat seperti serial Panji Tengkorak. Di rumah, saya juga punya koleksi lengkap komik Mahabrata, Bratayudha, dan Parikesit karya R.A. Kosasih.”

“Tetapi yang cukup mengesankan, buku-buku cerita di perpustakaan itu. Di sana saya mengenal lebih banyak puisi Charil Anwar, W.S. Rendra, Wing Kardjo, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, dan Linus Suryadi AG (terutama berkat Linus yang menjadi editor seri antologi puisi Indonesia modern, Tonggak, saya mengenal lebih banyak puisi karya penyair berbagai daerah). Pendeknya, saya berburu aneka buku terbitan Pustaka Jaya, Balai Pustaka, dan penerbit lainnya, baik puisi maupun prosa.”

“Dunia bacaan saya kemudian meluas sewaktu SMA. Saya mulai menggemari seri Sherlock Holmes dari Sir Conan Doyle, lalu membaca roman karya Mochtar Lubis, terutama Jalan Tak Ada Ujung serta Harimau-Harimau. Saya juga membaca Nikolai Gogol “Jiwa-Jiwa Mati”, lalu Dostoevsky “Kejahatan dan Hukuman”, Arthur Koestler “Darknest at Noon”, Orwell “Animal Farm”, Herman Hesse ”Siddharta”, Yukio Mishima “Kuil Kencana”, dan lain-lain. Kemudian, secara tak sengaja saya menemukan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer (PAT) di rak buku paman saya. Buku itu kelihatan disimpannya hati-hati, dan dia mengatakan kepada saya, buku itu terlarang, jadi tak boleh sembarangan. Saya membacanya dengan antusias, masuk ke dalam imajinasi masa kolonial, dan frustasi mencari sekuel selanjutnya. Kelak ketika berkuliah di Yogyakarta, saya baru mendapatkan Tetralogi PAT secara lengkap. Di masa mahasiswa, saya beruntung bisa mambaca lebih banyak lagi, karena akses yang lebih luas, juga pergaulan antar kawan mahasiswa yang punya minat sastra, politik, sejarah, dan filsafat.”

“Saya mulai menulis puisi sejak SMA, tapi tak pernah mengirimkannya ke media manapun. Saya merasa puisi lebih cocok, lebih ekspresif dan bisa membahasakan apa yang berdentang di jagad batin. Sewaktu mahasiswa, saya masih menulis beberapa puisi, dan hanya dimuat di antologi terbitan perkumpulan mahasiswa. Setelah bekerja sebagai wartawan, saya kian sering menulis features, dan itu artinya lebih banyak bergulat dengan penulisan non-fiksi, tapi punya kedekatan dengan prosa. Baru setelah beberapa waktu belakangan, kembali lagi menulis puisi.”

(II)
Nezar Patria: “Ini maksudnya kata-kata yang ditumpahkan ke dalam karya seperti prosa dan puisi ya? Mungkin, setiap individu punya pengalaman berbeda. Saya hanya bisa menulis puisi, jika menemukan ‘momen puitik’. Momen itu bisa terjadi dengan tiba-tiba, misalnya lagi melihat selembar kartu pos, lalu teringat seseorang dan pengalaman bersamanya. Atau sedang sendirian di bus kota, atau berhenti di sebuah halte yang kosong, dan melihat sebuah botol kosong di bangku halte. Semua itu pemantik-pemantik di dunia obyektif, yang kemudian mempengaruhi dunia subyektif saya dengan beragam pengalaman yang mengendap di alam bawah sadar.”

“Rangsangan dari dunia obyektif itu memancing bawah sadar bekerja, lalu semua isi bagasi pengalaman keluar dalam bentuk kata-kata, yang membentuk imaji, bunyi, dan makna yang diwakilinya. Kata-kata bisa keluar begitu saja tanpa bisa ditahan, dan kemudian baru saya menyusunnya, agar memenuhi kaidah puisi. Kadang kala saya terkejut dengan hasilnya, kata-kata bisa bergerak dengan ajaib, menajamkan apa yang saya rasakan, atau bahkan melompat keluar memberikan horizon baru, dan juga makna baru. Misalnya ketika saya melihat sepotong gambar tentang seorang tawanan yang akan dieksekusi di Suriah. Saya terenyuh, mungkin karena saya pernah punya pengalaman yang sama. Sepotong gambar itu menggugah saya dengan ‘momen puitik’, dan lantas saya menuliskannya jadi puisi. Demikian sejumlah puisi lahir dengan berbagai macam perjumpaan antara realitas obyektif dan dunia obyektif saya. Dari sini, saya kira puisi lahir dengan sedikit banyaknya dipengaruhi oleh latar belakang subyektif si penyair; penghayatannya atas peristiwa, luka dialaminya, kebahagiaan yang dipetiknya, dan juga kemarahan.”

Nurel Javissyarqi: “Maaf Mas Nezar Patria, kalau pertanyaan kedua di atas, atau kata-kata saya tersebut sulit ditangkap maksudnya. Bahasa lainnya begini: Apakah karya yang sudah tercipta, misalkan puisi yang telah jadi, kelak, atau nantinya, bisa menentukan arah takdir sang penulisnya, dapat ‘menujum’ masa depan pengarangnya, atau menjelma sorot cahaya terang atas keyakinan-keyakinan lebih besar, dari masa awal ciptaan itu sebelumnya, (mungkin pertanyaan ini tidak logis, tapi dapatlah dinamai istilah lain), yakni, apakah karya yang telah terjadi itu, bisa mempengaruhi jawaban maupun menentukan pilihan atas persoalan si penyair di masa depannya, contoh kitab-kitab suci mempengaruhi umat yang mempercayai atau meyakininya, tentu dengan kadar lebih rendah bobotnya, dibandingkan kitab suci.... (jadi, pertanyaan saya bukanlah kata ‘dipengaruhi,’ tapi dengan kata ‘mempengaruhi’). Namun begitu, jawaban sampean tetap menjadi masukan berharga bagi saya, matur suwon sanget...”

Nezar Patria: “Saya tidak tahu, apakah puisi bisa sedahsyat itu meramal masa depan penyairnya, mungkin satu dua puisi yang diciptakan seorang penyair pada masa lalu, tiba-tiba dirasakan cocok dengan situasinya sekarang. Tapi saya kira itu kebetulan saja. Puisi mungkin punya efek magis dan mistis, tapi tentu ia bukan berfungsi seperti kitab suci yang dipercayai untuk memandu jalannya kehidupan. Banyak kebetulan yang ditemukan sebagai sebuah post-factum, bukan sebuah ramalan. Puisi merekam apa yang terjadi di jagad batin penyair dalam mencerap dunianya, dan karena sublimasi atas realitas, maka puisi terasa awet melintasi ruang dan waktu. Kita baca puisi Chairil di tahun 1940-an, dan mungkin masih bisa merasakan semangat yang sama di zaman sekarang.”

Nurel Javissyarqi: “Terima kasih atas jawabannya Mas Nezar Patria, mungkin nanti bisa dilanjut dengan yang lain, suwon...”

Nezar Patria: “Sami-sami.”

(III)
Nezar Patria: “Saya rasa ini juga berbeda di antara para penyair atau penulis, tergantung seberapa jauh dia terlibat, dan berjarak dengan peristiwa atau pengalaman. Ada penyair yang punya simpati kuat atas perjuangan rakyat, entah di negeri sendiri atau di belahan dunia lain. Dia tergerak oleh rasa empati, dan merasa menjadi bagian dari perjuangan itu. Puisi yang lahir bisa jadi sangat kuat, tapi kita masih bisa merasakan jarak penyair dengan dunia yang ditulisnya. Namun ada juga penyair yang terlibat dalam dinamika pergerakan itu, menjadi bagian organik, dan karya-karyanya tampak orisinil menjadi bagian dari apa yang ditulisnya. Kita bisa membaca dunia orang pinggiran, dan cita-citanya untuk kehidupan lebih baik, dari puisi Wiji Thukul misalnya. Kita bisa merasakan bagaimana hasrat cinta Pablo Neruda bertemu dengan pengalaman pribadi perjuangannya, dan juga metafora yang kuat dari solidaritasnya untuk kebebasan orang-orang teraniaya. Pengalaman itu saya kira, bahan baku yang tak habis-habisnya, dia masuk ke bawah sadar si penyair, dia bisa bangkit kapan saja ‘momen puitik’ datang memanggilnya.”
***
(IV)
Cak Bono: “Mas Nezar Patria, berkenaan dengan wabah covid-19 ini. Sepertinya, pasca pandemi ini, produksi, konsumsi, dan distribusi dari teks, baik sastra maupun jurnalistik, akan menemukan new normalnya masing-masing. Jika demikian, kira-kira seperti apa roadmapnya? Seberapa cepat, dan sejauh mana pergeserannya? Apakah akan terjadi disrupsi?”

Nezar Patria: “Dunia belajar banyak dari pandemi ini, setidaknya mengakui, bahwa pencapaian peradaban manusia saat ini, ternyata masih rentan dengan serangan wabah. Betapapun, pencapaian teknologi Abad 21, masih mungkin membuat manusia berinteraksi via platform digital, dan terhubung lewat internet. Hal ini mungkin tak dialami oleh generasi awal Abad 20, saat Spanish Flu merebak pada 1918, dan merenggut nyawa lebih 50 juta jiwa. Bakal ada kesadaran baru post-covid-19, bahwa kita harus menerima koeksistensi hidup bersama ancaman wabah, dan karenanya kerja sama antar bangsa menjadi semakin penting. Kita lihat sebelum wabah menerjang, dunia sedang melakukan tata ulang dengan munculnya nasionalisme sempit di sejumlah negara di Eropa, dan konservatisme di AS. Perang Dagang China-AS, salah satu manifestasinya. Setelah covid-19, mungkin kita akan bertemu dengan new normal, bahwa kerentanan peradaban manusia di tengah wabah harus diatasi dengan kerja sama antar bangsa. Bahwa dunia informasi digital berjasa tetap menjaga interaksi manusia meskipun dalam isolasi, yakni kesehatan menjadi agenda prioritas agar bisa selamat, hubungan eksploitatif manusia atas alam harus ditinjau ulang, yaitu kerawanan pangan bisa mengancam, dan sama beratnya dengan ancaman virus. Tentu saja sastra juga jurnalisme akan berubah, pusat-pusat informasi lebih menyebar, dan komunitas-komunitas mengambil peran masing-masing dalam jejaring global. Meskipun begitu, platform digital semisal FB dan Google, tetap bermain sebagai pelaku utama, dan mendefiniskan mana yang penting atau tidaknya di dalam soal distribusi informasi melalui rezim algoritma. Dalam hal ini, media-media harus mencari ekosistem tersendiri, yang lebih independen dari platform raksasa. Kita belum tahu apa yang terjadi di depan, tetapi jelas pengalaman paruh pertama tahun 2020 ini, akan berpengaruh pada perkembangan dunia ke depan.”

Cak Bono: “Komprehensip, dan tidak muluk-muluk. Yang menarik, tentang mewaspadai juga mengantisipasi Dominasi Rezim Algoritma, pemain Big data yang sudah mapan. Ini akan menjadi hal yang patut dicermati, terutama berkaitan dengan otoritas regional gaya lama, yang mungkin masih cenderung bermain pada wilayah statusquo, tetapi, diluar dunia maya. Kebutuhan untuk hidup, senyatanya sandang, pangan, dan papan adalah tantangan paling berat. Kira-kira sejauh mana kontribusi dunia digital jejaring global dalam hal memproduksi ketahanan sandang, pangan, papan dalam situasi new normal ini. Sementara untuk distribusi, sepertinya akan sangat membantu, terutama dengan mudahnya koneksi antara supplier dan konsumen. Selanjutnya, sejauh mana pola konsumsi masyarakat terhadap produksi ‘teks,’ baik jurnalistik maupun sastra? Menanggapi bahwa komunitas dibawah rejim algoritma, yang meskipun bebas akan terbatasi atau dibatasi juga oleh (mungkin) diskursus setingan pemilik modal. Terima kasih atas pencerahannya yang bernas dan lugas.”

Nezar Patria: “Sama-sama Mas.”

(V)
Wawan Eko Yulianto: “Bang Nezar Patria, kalau ada titik dalam hidup yang membuat abang bisa menulis dengan lancar dan nyaman, serta tidak ada takut sama sekali, ketika dibutuhkan untuk menulis, kapan itu? Makasih.”

Nezar Patria: “Kalau sedang mendapat letikan ide, dan mungkin juga disebabkan oleh sesuatu yang emosional. Kadang kita menulisnya dengan jemari tangan gemetar, menahan luapan perasaan.”
(VI)
Andrenaline Katarsis: “Satu buku karya Mas Nezar Patria yang saya suntuki waktu zaman kuliah dulu, tentang ‘Hegemoni Antonio Gramsci’ penerbit Pustaka Pelajar kalau ndak salah. Sungkem untuk buku itu, Mas...”

Nurel Javissyarqi: “Matur suwon sanget Mas Andrenaline Katarsis sudah mampir...”

Nezar Patria: “Andrenaline Katarsis, Terima kasih Mas, sudah mau membaca buku itu.”
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar