Rabu, 12 Februari 2020

DE-GUSDURISASI DAN KOLOR KEKUASAAN

Binhad Nurrohmat

Tulisan ini akan dimulai dengan sebuah klise yang awam: Gus Dur sohor sebagai figur publik yang lucu, jenaka, dan bisa membuat kawan dan lawan terbahak gembira. Bill Clinton dari negeri kapitalis utama dan Fidel Castro dari negeri komunis kawakan telah berhasil dibuatnya terpingkal. Juga jamaah pengajian di desa-desa terpencil yang mimbarnya beratap kain terpal.
Tapi Gus Dur bukan pelawak.

Akhir riwayat Gus Dur di gelanggang politik praktis terasa tragis bagi banyak pihak -- tentu tidak bagi seteru politiknya. Gus Dur tak berkeluh karenanya meski ia menilai kesalahan yang dituduhkan kepadanya sebagai kepala negara -- terkait perkara Buloggate dan Bruneigate misalnya -- tak terbukti secara hukum.

Namun Gus Dur bukan pemuja berhala kekuasaan. Dan ia "miskin" modal untuk meraih kekuasaan. "Modal saya dengkul. Ini pun dengkulnya Amien Rais." Demikian sebagian ujaran terkenal dari Gus Dur.

Gus Dur rela meninggalkan Istana Negara pada 2001 demi batalnya pertumpahan darah akibat amarah dan kegusaran kelompok pendukungnya yang dapat timbul akibat pelengserannya yang "gelap" kebenaran pangkal soalnya itu. Ini tentu tidak adil. Dan ketidakadilan adalah api yang sanggup membakar dan menjalarkan kobaran kehancuran melebihi batas yang pernah diduga.

Justru lantaran massa pendukungnya yang besar itu merasa gusar, Gus Dur meredam egonya dengan bersabar. Gus Dur paham kekuatan besar ada di hadapan. ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar) yang setia kepada Soeharto dan Orde Baru tak tersapu oleh Reformasi 1998.

Boleh jadi Gus Dur merasa "tak repot" dikeluarkan dari Istana Negara. Setelah dilengserkan, semoga publik belum lupa peristiwa Gus Dur di teras Istana Negara seperti pamit dengan melambaikan tangannya kepada publik dengan bercelana kolor.

Gus Dur enteng saja menanggapi asal-usulnya ia bercelana kolor di teras Istana Negara itu. "Agar semua orang tahu saya bukan lagi presiden."

Sepertinya, nilai kekuasaaan bagi Gus Dur seringan celana kolornya yang tampil di halaman depan banyak media setelah ia melenggang dari Istana Negara dan ia kembali menghuni rumahnya sendiri.

Namun para pengagum Gus Dur, sejak kejatuhannya dari tampuk kepresidenan, terdera rasa kecewa mendalam, bahkan sampai hari ini. Tentu ini bukan sekadar "baper" yang dangkal. Ada rasa keadilan yang terluka karena pelengserannya yang begitu cepat, "politis", tidak adil dan tak terduga. Juga tak diharapkan -- kecuali oleh para penentangnya.

Eforia naiknya Gus Dur sebagai presiden yang singkat ternyata kemudian membuncahkan rasa getir yang tak sebentar dalam diri para pendukungnya.

Apakah biografi Gus Dur adalah tragika-komedi?

Rekaman leluconnya masih kerap terulang. Dan kisah dirinya sebagai presiden di negeri ini yang dijatuhkan dari kursi kekuasaan sontak memicu rasa geram dalam diri massa pendukung fanatiknya hingga jauh ke pelosok negeri serta mengaduk kegelisahan kalangan elit di perkotaan yang pro kepada jalan politiknya.

Gus Dur adalah bukti pertama gagalnya Reformasi 1998.

Belasan tahun setelah pelengseran Gus Dur, serangkaian skenario "operasi rahasia" -- yang disebut operasi Semut Merah -- yang ingin dipendam selamanya oleh para pelaksananya tanpa terduga tersingkap hingga tampak "aurat"-nya yaitu dokumen surat operasi ini yang jatuh ke tangan khalayak luas.

Penjatuhan Gus Dur dari kursi kepresiden adalah "de-gusdurisasi" yang terjadi semasa hayatnya. Jauh sebelumnya, di masa Orde Baru, Gus Dur tak sedikit kali diupayakan gagal dari sejumlah momentum yang berpotensi menobatkannya sebagai pemimpin di kalangan sipil melalui NU dan wadah-wadah lainnya.

Itulah de-gusdurisasi yang pertama: de-gusdurisasi politik di masa hidupnya Gus Dur. Masih ada de-gusdurisasi yang lain yang terjadi setelah Gus Dur meninggal dunia.

Pernah terdengar isu bahwa Gus Dur di-baptis. Melalui siaran di sebuah televisi swasta, Gus Dur menepis isu itu dengan tegas. "Bohong itu." Lalu berkedok jargon pluralisme dan toleransi, ada pula gerakan yang hendak "mengesankan" Gus Dur sebagai penyokong pandangan bahwa "semua agama sama". Padahal sebuah vIdeo menayangkan bukti saat Gus Dur tegas menyatakan di sebuah mimbar pengajian bahwa agama-agama adalah "ora podho" (tidak sama). Di mimbar pengajian pula Gus Dur mengkritik sikap melampaui batas dari apa yang disebutnya "gerakan lintas agama".

De-gusdurisasi dalam politik dan agama itu bisa terjadi persis melalui kosakata Jawa yang populer melalui komunikasi massa Gus Dur semasa hidupnya yaitu "plintiran".

Jurus plintiran itu dilancarkan oleh jaringan para penentang Gus Dur dan sebagian pihak yang tampak atau merasa sebagai jaringan pengagumnya.

De-gusdurisasi yang pertama berhasrat menggusur peran dan eksistensi Gus Dur dari kepemimpinan agama, politik dan kekuasaan melalui cara-cara tak obyektif, curang dan tidak adil. Dan de-gusdurisasi yang lainnya adalah pencitraan atau pelabelan yang berlebihan terhadap Gus Dur dan bahkan bertentangan dengan pandangannya tentang agama yang dihembuskan oleh sejumlah pihak setelah kewafatannya.

Dua jenis de-gusdurisasi itu alias plintiran-plintiran itu jauh dari rasa dan performa jenaka. Tak serupa Gus Dur. Jenis yang pertama bergerak dengan kelicikan. Jenis yang kedua bergiat dengan sejenis perayaan klaim yang tidak obyektif melalui sejenis "pemalsuan" dan bahkan lewat dusta.

Lalu apa yang mesti dilakukan setelah semua itu terjadi?

Jawaban moralis yang klise ini kiranya masih patut berlaku: Menyingkap kebenaran yang ditutupi dan meluruskan pandangan yang diplintir di sana-sini.

Saya tak sepakat bahwa Gus Dur "dijerat" oleh para penentangnya sebagaimana judul buku yang antara lain menelanjangi selubung operasi rahasia yang telah menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan. Buku itu berjudul "Menjerat Gus Dur" (2020) yang ditulis dengan tekun oleh Virdika Rizky Utama.

Namun saya bersepakat dengan isi buku itu.

Bisa saja sebenarnya Gus Dur melawan usaha pelengseran atas dirinnya sebagai presiden kala itu. Bukankah barisan pasukan berani mati dan kalangan yang fanatik kepadanya bersiap siaga membela posisinya?

Namun Gus Dur anti-kekerasan.

Gus Dur memilih "mengalah" dan "memaksa" dirinya sendiri berpihak kepada kondisi kehidupan bersama yang tanpa ceceran tumpahan darah lantaran pergolakan kekuasaan, maka untuk itu ia meletakkan kekuasaan, meninggalkan Istana Negara dengan tanpa kemewahan, hanya dengan bercelana kolor.

Gus Durlah yang mestinya paling merasa tersakiti oleh zalimnya penentang kekuasaannya -- dan ia sanggup menahan diri dan bersedia menjadi "korban".

Gus Dur memilih dirinya dijerat oleh para penentangnya, dan ia dijatuhkan tanpa memberontak. Ia amat sadar atas kepedihan yang jumawa ini demi urusan lain yang bernilai lebih tinggi: kemanusiaan.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar