Selasa, 26 November 2019

Nubuat Pemimpin Akhir Zaman

Anindita S. Thayf *
Jawa Pos, 08 Jan 2017

KETIKA istrinya sebentar lagi melahirkan, dia mendapati dirinya lebih banyak menghabiskan malam di teras, menjaga pintu—sekiranya potongan tripleks berengsel tali itu bisa disebut demikian—seakan ada yang hendak mencurinya. Dia berada di sana bukan sebagai suami siaga, melainkan kepala keluarga yang sedang banyak pikiran. Tidak bisa tidur selama berhari-hari hingga rasanya nyaris sinting. Membiarkan hujan menghipnotis dirinya sementara angin busuk sampah dekat situ mengurapi bulu-bulu hidungnya.

Di awal menikah, dia sempat memanggil istrinya “Putri Malu” sebab dialah “Sang Pangeran”. Saat itu, istana mereka berwujud gerobak tua yang mesti didorong ke sana-kemari pada siang hari dan diparkir pada malamnya. Walaupun tinggal dalam gerobak, Sang Pangeran dan Putri Malu hidup bahagia. Masa tersebut dikenangnya sebagai masa singkat yang indah.

Hingga muncullah satu makhluk merah jambu sebelas bulan kemudian, lantas menyusul adik-adiknya sepuluh bulan sekali. Tu, Wa, Ga, Pat, begitulah dia memberi nama keturunannya. Kemiskinan dan penderitaan membuatnya tidak mau susah-susah berpikir soal nama, apalagi memilih satu kata yang punya arti bagus atau manis. Yang pasti, setelah kehadiran anak keempat, si Pat, dia menyadari gerobaknya kian sesak. Sejak itu dia mulai bermimpi tentang rumah yang lebih lapang.

Dengan mengatasnamakan kepentingan bersama, si Tu yang sudah berumur empat tahun, juga ketiga adik dan ibunya, dia libatkan dalam apa yang disebutnya proyek masa depan. Mereka diwajibkan bekerja apa saja demi mengisi tabungan keluarga. Untunglah, sebelum malaikat maut tergerak mengadopsi anak-anak malang itu, dia mampu menyewa sebuah rumah yang mirip kotak sepatu di Perkampungan Tepi Rel.

Rumahnya berukuran tiga lembar bentangan koran kali lima buntal karung, berlantai tanah, beratap seng, berdinding papan tipis. Perabotnya hanya sebuah lemari kayu yang dibuat dari bekas gerobak tuanya. Pada tahun-tahun awal masa sewa, rumah-kotak sepatu itu berhasil dilegakannya dengan menyuruh semua anak bekerja pada siang hari, sebelum kemudian mengandangkan mereka dalam lemari pada malamnya. Empat rak untuk empat anak sekurus sapu. Tu, si sulung yang tahan banting, menempati tempat favorit laba-laba: atap lemari.

Di saat-saat seperti itu, jika menatap rumah sewanya, dia selalu hampir menangis saking terharunya. Tak pernah terbayangkan akhirnya dia bisa membebaskan punggungnya dari kuntitan gerobak, apalagi punya sesuatu di mana dia bisa menggantung baju terbaiknya, memasang poster di dinding, dan membiarkan istrinya menghiasi teras dengan kaleng-kaleng tanaman cabai yang tumbuh di atas kuburan ari-ari anak mereka. Dia juga bisa tidur dengan gaya telentang ala bintang laut, bahkan meniduri istrinya setelah lelah saling gelundung. Tak heran, setelah cuti hamil selama satu tahun, perut istrinya kembali menampakkan tanda-tanda hamil. Satu makhluk merah jambu sedang dalam perjalanan. Kali ini dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Dari pengalaman dia belajar, calon bayi sanggup menghasilkan uang lebih banyak daripada seorang bocah penuh ingus. Jika bukan atas usaha istrinya yang mengemis bersama calon anak kelimanya, membayar biaya sewa rumah mestilah terasa jauh lebih sulit. Dia pun berencana mengundang lebih banyak makhluk merah jambu ke rumah mereka. Mengabaikan istrinya yang menjawab, “Aku tidak siap, Suamiku. Tidak mau lagi,” dia terus memacu mesin produksinya sepenuh semangat. Merasa lebih hebat dan kaya setiap kali satu makhluk merah jambu berhasil dilahirkan istrinya. Menjadi begitu peduli pada perempuan itu setiap jelang melahirkan, tapi segera mengabaikannya begitu semuanya selesai dengan lancar. Demi uang, dia akan melakukan apa saja.

Seiring bertambah tahun, bertambah besar pula anak-anaknya, pun jumlahnya. Kepada mereka, dia lebih sering berseru, “Hey, Kau! Mengemislah di sana,” atau, “Kau, mencopetlah bersama saudaramu!” tanpa pernah mau mengingat nama-nama mereka yang saat itu sudah berjumlah sepuluh. Di matanya, semua anaknya berwarna sama, berpostur sebangun, dan berwajah seekspresi; hitam, garis lurus, dan memelas.

Ketika istrinya melahirkan Luh, si anak kesepuluh, dia mendapati satu kenyataan yang menurunkan semangat. Rumahnya ternyata telah dijauhi lapang. Pada malam hari, ketika waktu tidur tiba, rumah tersebut menjelma bak dapur pengasapan ikan. Tubuh-tubuh berkeringat dijejer dan dijejalkan pada setiap celah kosong. Dua belas orang dalam satu ruangan. Lima yang paling kurus tidur di dalam lemari. Lima yang berbadan besar berbaring miring saling menempel di atas lantai tanah tanpa menyisakan ruang untuk menggaruk punggung sendiri. Sisanya bertengger pada tumpukan karung.

“Kita berhenti sampai di sini saja,” putusnya pada akhirnya, yang langsung disambut istrinya dengan sukacita.
Terhitung sejak hari itu, dia berhenti menyentuh sang istri dan beralih menyewa pelacur paling murah. Hingga tibalah hari itu.

Hari raya. Hari koin-koin berjatuhan dari langit. Tangan-tangan dekil para pengemis berebutan menadahnya mumpung orang kaya sedang berbaik hati. Hasilnya, anak-anaknya panen raya. Mereka pun bersenang-senang pada hari itu. Mendatangi pertokoan untuk beli baju, sepatu, bahkan ponsel yang dipakainya saat itu juga sebab beberapa hari lagi akan dijual. Memasuki restoran untuk makan enak sepuasnya sebelum esok datang bersama kehidupan yang sulit dan kejam. Dan, ketika anak-anak memutuskan mengunjungi taman bermain, dia dan istrinya yang kekenyangan pulang ke rumah. Bermaksud tidur siang sebentar, tapi pada akhirnya tergoda bercinta siang-siang. Enam ronde permainan cinta setelah libur panjang yang langsung menandaskan mani simpanannya dan belakangan membuat istrinya berubah bagai mayat korban kapal tenggelam: membengkak dan hamil.

Berbeda dari sebelumnya, kehamilan istrinya kali ini tidak disyukuri karena tidak menghasilkan apa-apa. Gara-gara badan yang membengkak, istrinya hanya mampu menjadi penunggu rumah sambil tiduran. Menyesaki sudut rumah dengan uap keringatnya yang berlebihan dan membuat lantai rumah terlihat amblas beberapa senti, terutama pada petak tempatnya berbaring. Dia pun kerap dihinggapi perasaan seolah tengah memelihara sapi.

Ramal seorang dukun, “Istrimu akan melahirkan anak raksasa.”
Tapi, istrinya membantah, “Bukan raksasa. Ini sepertinya kembar.”
Dan, menurut bidan di klinik, “Kelahiran seperti itu akan sulit. Melahirkanlah di klinikku saja.”

Namun, dia sudah punya keputusan sendiri. Calon pendatang baru yang tidak mampu menghasilkan uang tidak akan mendapat tempat dalam keluarganya. Dia pun mulai bersikap tak acuh pada istrinya. Sebaliknya, perempuan itu justru makin perhatian pada janin dalam perutnya bahkan sudah menetapkan nama, “Sebelas, Duabelas,” tanpa pernah tahu keinginan terdalam suaminya: agar makhluk-makhluk merah jambu itu tiba di tujuan dengan tidak selamat.
***

Kelahiran itu terjadi pukul tiga pagi tepat di tanggal yang istimewa: tanggal pertama di tahun yang baru. Di tengah hujan berhari-hari yang enggan berhenti, di atas tanah yang melembek serupa kardus basah, dua makhluk merah jambu meluncur keluar dari kedalaman selangkang sang ibu. Berkapsul lendir, keduanya tiba di bumi tanpa menangis, dan segera disambut oleh tangan dingin banjir yang datang dari Sungai Purba dekat situ. Tanpa sempat dibiarkan mengenali wajah ibunya, kedua makhluk berkapsul lendir itu langsung diajak mengapung ke luar rumah, melewati sang ayah yang mendadak bisa tidur pulas di teras. Oleh banjir, keduanya dibawa menuju pusat ibu kota.

Sementara itu di seantero ibu kota, ribuan makhluk merah jambu lain yang tiba lebih dulu di bumi telah berbaring mengisi ranjang-ranjang rumah sakit, boks-boks bayi, hingga belahan dada perempuan yang melahirkannya. Sebagian besar dari mereka diciduk paksa dari kenyamanan kapsul berlendirnya oleh tim dokter tepat ketika tanggal istimewa dimulai. Melupakan betapa sempitnya ruang hidup yang tersisa di ibu kota, setiap orang tua ingin keturunannya memulai hidup yang baru di tanggal yang dianggap baik ini. Beruntung, alam yang bijaksana menemukan pemecahannya. Tanggal istimewa ternyata tidak hanya baik untuk memulai sesuatu, tapi juga mengakhirinya.

Alam pun menyuruh sungai memanggil banjir. Memerintahkan laut mengirim tsunami. Meminta langit menurunkan lebih banyak hujan. Perlahan tapi pasti, tanah ibu kota yang sudah selembek kardus basah mulai bergerak. Melempung, melumpur, lalu mencair. Menelan semua gedung, rumah, jembatan, jalanan, dan apa saja yang berdiri gagah di atasnya. Mengusir para penghuni lama demi memberi tempat kepada para pendatang baru: bayi-bayi berkulit merah jambu pengundang rezeki.

Di tengah semua itu, makhluk-mahkluk merah jambu berhasil selamat dengan meniru kecebong. Mengapung kian kemari di atas reruntuhan ibu kota dipandu tali pusar, sebelum kemudian berhenti di tempat yang dipilih. Tempat yang tepat untuk memulai hidup yang benar-benar baru.

Di pusat ibu kota, di atas bangkai sebuah istana besar berdinding putih yang ditindih Tugu Mercusuar roboh, dua sosok makhluk merah jambu telah melabuhkan kapsul berlendir masing-masing dengan mantap. Satu di sebelah kanan, lainnya di sebelah kiri.

Dua puluh menit sebelumnya, ketika tsunami hampir tiba, ibu keduanya yang pingsan usai melahirkan sempat disambangi mimpi indah. Sepasang anak kembarnya tenyata mampu menghasilkan rezeki, bahkan berlimpah—sayangnya, sang ayah tak bisa menjadi saksi karena telah pindah rumah ke dasar laut bersama kepiting karang. Kelak, kedua anaknya akan menjadi sepasang pemimpin bangsa masa depan: Presiden Sebelas dan Wakil Presiden Duabelas. ***
***

*) ANINDITA S. THAYF, lahir 5 April 1978 di Makassar. Novelnya, Tanah Tabu (Gramedia Pustaka Utama, 2009), menjadi juara 1 lomba menulis novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2008 dan finalis Khatulistiwa Literary Award 2009 serta diterjemahkan ke bahasa Inggris dengan judul Daughters of Papua (Dalang Publishing, San Francisco, 2014). Sedangkan novel Jejak Kala (Sheila, 2009) mendapatkan penghargaan Sastra Yogyakarta 2010 dari Balai Bahasa Yogyakarta. Novel terbarunya “Ular Tangga” (GPU, 2018).
https://lakonhidup.com/2017/01/08/nubuat-pemimpin-akhir-zaman/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar