Senin, 19 Agustus 2019

KITONG SAYANG TANAH PAPUA, TRA TERBILANG BAHASA DAN SASTRANYA :

MENGUSAHAKAN PEMAJUAN BAHASA DAN SASTRA TANAH PAPUA
Djoko Saryono *

di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung (Pepatah Melayu)
di mana bumi Papua sa pijak, di situ langit Papua sa junjung

Apuni inyamukut werek halok yugunat tosu 
Berbuatlah sesuatu yang terbaik terhadap sesama (Pepatah Lembah Baliem, Wamena)
Berbuatlah sesuatu yang terbaik terhadap bahasa dan sastra Tanah Papua

RINGKASAN

Selain kekayaan alam dan keanekaragaman hayati yang luar biasa, Tanah Papua memiliki kekayaan kebudayaan yang beraneka ragam luar biasa termasuk kedalamnya kekayaan akan bahasa dan sastra. Tanah Papua kaya raya akan bahasa dan sastra dengan keanekaragaman yang mengesankan. Kekayaan bahasa dan sastra yang sangat beraneka ragam itu membentuk sebuah panorama, lanskap atau taman kebahasaan dan kesastraan di Tanah Papua.

Dalam perspektif Ong (2012) dan Saryono (2019), panorama atau lanskap kebahasaan dan kesastraan di Tanah Papua dapat dikategorikan ke dalam empat kuadran, yaitu (a) sastra lisan yang hidup di dalam kebudayaan kelisanan primer, (b) sastra naskah yang hidup di dalam kebudayaan manuskrip, (c) sastra tulis-cetak yang hidup di dalam kebudayaan tulis-cetak, dan (d) sastra lisan kedua dan sastra lain yang hidup di dalam kebudayaan kelisanan sekunder atau digital. Sastra lisan Tanah Papua yang indentik dengan sastra daerah jelaslah kaya dan beraneka ragam luar biasa.

Kekayaan utama Tanah Papua yang paling luar biasa memang tradisi lisan dan sastra lisan, yang identik dengan sastra daerah. Meskipun tidak sekaya dan seberaneka ragam sastra lisan, sastra naskah Tanah Papua sedang tumbuh dan berkembang. Demikian juga sastra tulis di Tanah Papua terus tumbuh dan berkembang. Demikian juga sastra lisan sekunder dan sastra di dunia digital Tanah Papua mulai tumbuh dan berkembang. Kekayaan dan keanekaragaman bahasa dan sastra Tanah Papua yang luar biasa tersebut dimajukan agar keberadaan dan keadaannya stabil sehingga dapat menjadi aset atau kapital kebudayaan Tanah Papua.

Pemajuan bahasa dans sastra Tanah Papua bukan hanya terbatas pada penyelamatan, pelestarian, pelindungan, dan pemeliharaan bahasa dan sastra Tanah Papua, tetapi juga pembugaran (revitalisasi), peremajaan/pemudaan (rejuvinasi), pengembangan, pembinaan, dan penguatan bahasa dan sastra Tanah Papua. Hal tersebut perlu dilaksanakan dalam tiga ranah kebudayaan secara sinergis, yaitu sekolah, keluarga, dan masyarakat (komunitas).

/1/
Selain sumber daya alam, kekayaan apakah yang dimiliki oleh Tanah Papua? Selain keanekaragaman hayati yang luar biasa [seperti dapat dilihat di dalam buku Ekologi Papua suntingan Sri Nurani Kartikasari dan kawan-kawan atau buku Atlas Sumber Daya Alam dan Pembangunan Berkelanjutan yang diterbitkan oleh Badan Informasi Geopasial], keanekaragaman apakah yang luar biasa di Tanah Papua? Tak syak lagi, kekayaan kebudayaan – termasuk di dalamnya kekayaan bahasa dan sastra. Dapat dikatakan bahwa Tanah Papua kaya raya akan bahasa dan sastra. Tidak mungkin dipungkiri lagi, keanekaragaman kebudayaan – termasuk keanekaragamaan bahasa dan sastra sangat mengesankan.

Memang tidak mudah mengetahuinya secara utuh dan lengkap. Namun, secara impresif sketsa umum kekayaan dan keanekaragaman bahasa dan sastra (di) Tanah Papua dapat kita ketahui dengan membaca pelbagai kajian dan wacana yang diproduksi oleh berbagai pihak; membaca hasil pemetaan kebudayaan khususnya bahasa dan sastra yang dikerjakan oleh pelbagai pihak – tegasnya bisa dilihat dalam peta bahasa dan sastra Tanah Papua; dan bahkan bilamana memungkinkan bisa kita ketahui dengan menjelajahi ruang dan tempat (space dan place) di seluruh Tanah Papua baik dalam rangka penelitian maupun dalam rangka pemberdayaan. Misalkan, bilamana dibaca secara cermat hasil pemetaan bahasa di Tanah Papua yang dikerjakan oleh Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan niscaya kita akan terkesan betapa kaya dan beraneka ragamnya bahasa – termasuk tentu sastranya – di Tanah Papua yang kita cintai bersama. Kemudian bilamana dibaca secara detail Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) baik tingkat provinsi maupun kabupaten/kota yang ada di Tanah Papua tentulah kita akan terkesan betapa kaya dan beraneka ragamnya kebudayaan daerah Tanah Papua –di dalamnya termasuk kekayaan dan keanekaragamaan bahasa dan sastra. Sebab itu, dapat dikatakan bahwa aset atau kapital kebudayaan khususnya bahasa dan sastra Tanah Papua sungguh kaya dan beraneka ragam.

/2/
Sudah tentu kekayaan dan keanekaragaman bahasa dan sastra (di) Tanah Papua – sebagai unsur himpunan terpadu kebudayaan (di) Tanah Papua, bahkan unsur himpunan kebudayaan nasional – dapat membentuk panorama kebahasaan dan kesastraan yang indah; membentuk lanskap kebahasaan dan kesastraan (linguistic and literary landscape) yang mengesankan; atau membentuk taman bahasa dan sastra (di) Tanah Papua yang berkesan. Panorama, lanskap atau taman kebahasaan dan kesastraan yang kaya dan beranekaragam di Tanah Papua dapat diketahui berdasarkan berbagai kategori atau perspektif. Sebagai contoh, berdasarkan perspektif kecenderungan historisitas kebudayaan, sastra (di) Tanah Papua dapat dikategorikan menjadi (a) sastra tradisi[onal] dan (b) sastra modern. Atas dasar perspektif keruangan (spasialitas) sastra (di) Tanah Papua dapat dikategorikan menjadi (a) sastra lokal dan (b) sastra nasional. Kemudian berdasarkan bahasa yang melekat di dalam sastra dapat dikategorikan (a) sastra daerah yang menggunakan bahasa-bahasa daerah dan (b) sastra Indonesia yang memakai bahasa Indonesia. Kategori sastra lokal bersilangan, bahkan indentik dengan sastra daerah pada satu sisi dan pada sisi lain kategori sastra nasional identik atau bersilangan dengan sastra Indonesia. Baik sastra lokal atau sastra daerah maupun sastra nasional atau sastra Indonesia dapat meliputi sastra tradisi(onal) dan sastra modern. Pelbagai kategori sastra (di) Tanah Papua tersebut bisa terdiri atas puisi dan prosa. Sastra dramatik dalam pengertian mutakhir boleh jadi tidak berkembang di dalam kebudayaan Papua.

Selain itu, dalam perspektif [Walter] Ong (2012) dan [Djoko] Saryono (2019) yang didasarkan pada tingkat teknologisasi bahasa dan orientasi kebudayaan, sastra (di) Tanah Papua dapat dikategorikan menjadi (a) sastra lisan primer yang beralas pada kelisanan primer atau kebudayaan lisan, (b) sastra naskah yang beralas pada tradisi manuskrip atau kebudayaan membaca secara kolektif, (c) sastra tulis-cetak yang beralaskan tradisi tulis-cetak atau kebudayaan literasi, dan (d) sastra lisan sekunder, sastra terdigitalisasi atau sastra digital yang beralaskan kelisanan sekunder/kedua atau kebudayaan digital. Dapat dikatakan, kekayaan dan keanekaragaman sastra lisan primer Tanah Papua sangat mengesankan meskipun harus diakui bahwa kekayaan dan keanekaragaman sastra naskah Tanah Papua tidaklah seberapa. Kekuatan utama yang menjadi aset paling berharga Tanah Papua memang tradisi lisan dan kebudayaan lisan, bukan tradisi dan kebudayaan manuskrip. Selanjutnya, sastra tulis-cetak dan sastra lisan terdigitalisasi atau sastra digital (di) Tanah Papua pastilah semakin tumbuh dan berkembang – meskipun belum tentu pesat dan sesuai harapan – karena tradisi baca-tulis dan kebudayaan literasi terus digalakkan dan dikembangkan pada satu sisi dan pada lain tradisi lisan sekunder dan kebudayaan digital semakin tumbuh-berkembang di Tanah Papua. Seiring dengan semakin menguatnya kebudayaan literasi sekaligus kebudayaan digital, sastra tulis-cetak dan sastra terdigitalisasi atau sastra digital (di) Tanah Papua memiliki prakondisi dan atmosfer untuk tumbuh-berkembang dengan baik dan mengesankan pada masa depan. Di sini malah bisa dikatakan bahwa masa depan sastra (di) Tanah Papua – apakah akan semakin kaya dan beraneka ragam atau tidak – sangat bergantung pada usaha-usaha memajukan kebudayaan literasi sekaligus kebudayaan lisan kedua (digital) di Tanah Papua.

/3/
Hal tersebut sudah memperlihatkan betapa kekayaan dan keanekaragaman sastra (dan tentu bahasa dan seni lain) Tanah Papua sangat mengesankan dan menjanjikan. Kekayaan dan keanekaragaman sastra (dan bahasa) Tanah Papua merupakan aset atau kapital kebudayaan yang sangat berharga dan penting bagi Tanah Papua khususnya bagi warga Papua. Dikatakan demikian karena, pertama, sastra (di) Tanah Papua dapat menentukan atau setidak-tidaknya menopang keberadaan dan martabat Tanah Papua di mata pihak lain. Khusus sastra lisan yang identik dengan sastra daerah Tanah Papua – yang sesungguhnya sangat plural dan multikultural – malah dapat menjadi landasan pembentukan atau penguatan identitas kepapuaan yang berakar pluralisme dan multikulturalisme. Kedua, sastra (di) Tanah Papua khususnya sastra lisan yang mutatis mutandis sastra daerah – yang meliputi bermacam-macam genre sastra – merupakan aset atau kapital kebudayaan yang dimiliki oleh Tanah Papua yang dapat menjadi bekal atau modal untuk memasuki zaman baru yang kini sedang datang menjelang, di antaranya yang disebut era ekonomi kreatif, era ekonomi berbagi (sharing economy), era disrupsi teknologi digital, dan era mahadata (big data). Bahkan bolehlah dikatakan di sini bahwa sastra daerah Papua – yang beraneka ragam dari sisi etnisitas dan genre sastra – dapat menjadi aset utama Tanah Papua untuk memasuki industri kreatif dan kewirausahaan kreatif. Lebih lanjut, ketiga, sastra daerah atau sastra lisan Tanah Papua sebagai rumah eksistensi (house of being, kata Heidegger) atau dunia kehidupan (lebenswelt, kata para pemikir Jerman) orang-orang Tanah Papua dapat menjadi dasar orientasi, proyeksi, dan kultivasi (perawatan) peri kehidupan warga Tanah Papua karena di dalam sastra yang dimaksud niscaya terkandung kosmologi dan mitologi orang-orang Tanah Papua. Kepunahan sebuah genre sastra lisan Tanah Papua dapat berarti hancur atau hilangnya kosmologi dan mitologi warga Tanah Papua, yang kemudian akan membuat warga Tanah Papua kehilangan orientasi dan proyeksi hidup. Misalnya, hilang atau rusaknya mitos-mitos Amungme bisa mengguncangkan orientasi orang-orang Amungme; pudarnya tradisi munaba di Yapen Waropen dapat mengganggu orientasi dan perilaku hidup orang-orang Yapen Waropen.

Sejalan dengan itu, diperlukan usaha-usaha memajukan sastra (sekaligus bahasa dan tradisi seni ) Tanah Papua. Usaha-usaha memajukan sastra Tanah Papua di sini berarti usah meningkatkan ketahanan, kedaulatan, dan keberlanjutan sastra Tanah Papua agar dapat memberikan kontribusi bagi peri kehidupan orang-orang Papua dan peri kehidupan bangsa, bahkan peri kehidupan bangsa-bangsa di dunia – dengan kata lain, sastra Tanah Papua bisa memberikan kontribusi bagi kebudayaan dan peradaban lain. Usaha-usaha pemajuan sastra (di) Tanah Papua itu dapat ditempuh dengan empat cara utama, yaitu (1) pelindungan sastra (di) Tanah Papua, (2) pembinaan sastra (di) Tanah Papua, (3) pengambangan sastra (di) Tanah Papua, dan (4) pemanfaatan sastra (di) Tanah Papua. Pelindungan sastra Tanah Papua (beserta hal-hal yang melekat padanya) diarahkan pada tetap hidup dan berkembangnya sastra Tanah Papua dengan daya adaptabilitas dan keberlanjutan yang baik di tengah laju perubahan zaman yang cepat dan berlari lintang pukang. Pembinaan sastra Tanah Papua diarahkan pada tetap dikuasai dan digunakannya sastra Tanah Papua dengan baik oleh para masyarakat sastra Tanah Papua – dan masyarakat lain yang memerlukannya sehingga pemilik dan atau pemangku sastra Tanah Papua tetap mengenal dan menguasai sastra Tanah Papua. Kemudian pengembangan sastra Tanah Papua diarahkan usaha-usaha menghidupkan dan memperkuat ekologi atau ekosistem sastra Tanah Papua pada satu sisi dan pada sisi lain usaha meningkatkan, memperkaya, dan menyebarluaskan nilai-guna dan fungsi sastra di Tanah Papua – dan juga di tempat-tempat lain di luar Tanah Papua. Selanjutnya pemanfaatan sastra Tanah Papua diarahkan pada usaha-usaha mendayagunakan dan melipatgandakan nilai-guna sastra Tanah Papua untuk berbagai kepentingan kehidupan, kemanusiaan, dan kebudayaan, antara lain kepentingan ekonomis, sosiokultural, religiokultural, dan ideologis.

/4/
Berbagai usaha pemajuan sastra Tanah Papua tersebut dilaksanakan di dalam ruang-ruang dan tempat-tempat tumbuh dan berkembangnya kebudayaan dan peradaban Tanah Papua – yang sesungguhnya majemuk dan beraneka ragam. Tiga ruang dan tempat utama tumbuh-kembangnya kebudayaan dan peradaban Tanah Papua adalah keluarga, masyarakat (khususnya komunitas), dan sekolah. Dapat dikatakan, keluarga, sekolah, dan komunitas sekarang menjadi ruang utama kebudayaan dan peradaban. Mengingat sekolah sekarang samakin padat dan penuh dengan agenda, peran dan fungsi keluarga dan komunitas di Tanah Papua perlu diperbesar dan diperluas untuk arena pemajuan sastra Tanah Papua – sehingga keluarga dan komunitas di Tanah Papua dapat menjadi habitat utama kehidupan sastra Tanah Papua.

***

*) Guru Besar Universitas Negeri Malang.
http://sastra-indonesia.com/2019/08/kitong-sayang-tanah-papua-tra-terbilang-bahasa-dan-sastranya/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar