Jumat, 30 Agustus 2019

CARA MENGIKAT TALI SEPATU

A.H.J Khuzaini

Kiriman teman di grup Whatsapp yang kubenci.

“Bahkan manusia penghuni dusun yang gampang dituding sebagai anggota masyarakat tertinggal, serta perlu rutin mendapat penyuluhan pemanfaatan teknologi tepat guna itu. Sangat fasih memuji kota yang berbinar-binar dan penuh suka cita  ini. Apalagi kita!”

Dengan kalimat yang dimanis-maniskan, koran  digenggaman tanganku juga mengabarkan. kota ini miliki segala yang dibutuhkan siapa saja yang hendak menjangkau keindahan, menguak misteri pengetahuan,  ramah bagi tembang dari beberapa abad silam. Budayawan atau orang kaya yang penderma dilahirkan secara berkala. Aku tak percaya, lalu meninjaunya keluar rumah.

Tidak bisa dipercaya,  tiap perempatan, tempat kelimun berkumpul,  tak terdengar sepatahpun keluhan mereka berbagi senyum dan tawa seolah sebentar lagi hari raya. Aku menjumpai banyak agen rokok, kurir dan seorang tukang pos melaju riang tanpa perlu menyiapkan jas hujan, tukang ojek online tak memasang wajah was-was pada begal dan kemarahan orang-orang lapar yang makanannya agak telat diantar.  Seorang tukang pos berhenti di depanku, dia  kawanku. Seketika menawarkan kopi dan waktu padaku, aku setuju. Kami berbincang di cafe, kuberikan alasan mengapa aku terlihat linglung, dan realita baru yang tidak kumengerti pada kota ini.

“ Alun-alun kota kita sudah jauh berbeda, kau bisa dengan  bersiul girang menembang lagu  india kesukaanmu di sana. Pesanku, kalau  kau  ingin merayakan hari baik, jangan minum anggur di sana” dia tertawa, nampaknya ia teringat sikap terbaikku di tempat keramaian manaka telah lengang,  “kalau minum  ajak aku..”  sudah kuduga buntut kalimat itu bakal terlontar. Jika hatiku sedikit longgar, akan kupilih  pot bunga termahal yang bisa ku temui di sana,memperindahnya  dengan air seniku.

Kawanku  mengatakan tanpa ada maksud lain di balik itu, aku percaya sepenuhnya, setakar penuh kupercaya bahwa ia sangat mencintai pekerjaannya jauh sebelum antrian panjang kurir terjadi dan grup whatsaap berkembang pesat.  Diperjalanan Aku menghitung-hitung  lagu india yang ku kenal dan kuhapal barang dua tiga penggal  liriknya.  Aku juga akan berusaha lagu berbahasa spanyol yang mengiringi goyang pinggul berisi milik  ibu-ibu muda  tiap sabtu sore di depan rumahku. Despacito.

Quiero desnudarte a besos despacito
Firmo en las paredes de tu laberinto
Y hacer de tu cuerpo todo un manuscrito (sube, sube, sube).

Malam harinya, kawanku mengirim pesan lain.

“Bila tayangan televisi masih buruk, atau klub kita kemungkinan kalah telak. langsung berangkat ke alun-alun” tak kujawab, hasrat bergejolak.  Dia masih ingat,  aku tak begitu suka televisi, Cuma klub sepakbola dan tayangan bocah petualang yang mampu sedikit mengurangi, tapi klub sepakbola  sering kalah dan aku terlalu percaya pada pada omongan orang lain bila aku sudah tidak bocah.

Akhir tahun lalu, aku  ke sana, menurut petunjuk Google maps, jarak alun-alun dari rumahku 26  kilometer, jarak tempuh normal  43 menit. Bila berjalan kaki hanya 3 jam 54 menit. selepas adzan subuh berangkat, dan menjalaninya seriang bocah petualang.

Kusiapkan  tas ransel kesayangan yang ketika remaja pernah kupenuhi kenangan pada pohon perdu dan beba-batu di bahu gunung arjuna, serta sepotong nyali penjual kerupuk dan penambang belerang  disepanjang makadam menuju puncak pundak Gunung Welirang. Kenangan itu kuikat dengan kemampuan berpuisiku yang ala kadarnya. Meski tak begitu besar,  ruang tasku  kurasa masih cukup lebar guna  menampung  senyum, sapa, orang bertanya arah,  yang telah dan yang bakal singgah. Aku percaya akan banyak senyum yang kutangkap sepanjang lampah.

Kutengok jam gawai, ternyata  perjalanan ke alun-alun lebih lambat 4  jam lewat 55 puluh enam menit, aku tak peduli,  kupikir tiba teralu cepat.  Benar kata si tukang pos, alun-alun kota yang  gambarnya terpasang serentak di dekat gapura tiap dusun dihijaukan oleh sala-satu  pohon kesukaanku, pohon mangga!

“Pohon itu membuatku terobsesi kan!, kayanya tuan kebun tahu itu. tengoklah” dorongnya.

Pohon mangga, kupikir dia pohon paling tabah dan paling murah hati dari seluruh pohon yang sanggup kucatat namanya. Ia paling tahan benalu sembari merawat burung bayi burung peking.

“Kuakui dosaku terlampau banyak, bila Tuhan berbelas kasih, aku berharap dilahirkan kembali jadi pohon mangga” jawabku.

Alun-alun yang besar biaya perbaikannya lebih banyak ketimbang pembangunan dua puluh sekolah  hanya  sedikit ditumbuhi kembang rawan layu, mudah mati dan meminta pot tertentu. Aku tahu dimana kubuang air seniku. Mengejutkan, di ujung rimbun lidah mertua, tegak berdiri pohon kaktus tua. Menjalarlah rencana, kalau sepi akan menulis namaku beserta nama gadis cinta pertamaku,  dia sudah lama menjanda, aku masih sungguh mencintainya, sayang, dia kukuh menolak kunikahi. Tidak mengapa. nanti ku toreh namaku, di bawahnya kugambar lambang hati tertusuk panah Kamajaya,  lalu  nama cinta pertamaku,  ingin kutoreh juga ketiga nama anaknya dari tiga Bapak berbeda. Urung,  dendamku  pada Bapak mereka masih belum padam.

Di bawah pohon nangka  paling rindang dan murah hati nampak  keluarga aneh. Seorang lelaki tua penyemir sepatu yang enggan bekerja sungguh dia menghabiskan waktu dengan membagi dongeng  lucu. Tepat di depannya berdiri  gadis yang  mahir benar menggesek senar  biola, tapi payah mengikat tali sepatu.

Aku duduk di atas kursi batu yang meingkari pohon mangga, hendak menulis bebaris sajak, namun jemari malah menuntun mengarsir bentuk ombak, ombak terburuk barangkali, sebab setelah cukup lama  kuamati terlihat lebih mirip delapan  ular kurus kelaparan  yang  selalu gagal mencatuk barang seekor kodok atau tikus pun. Sudah tahu tak becus menggambar, dadaku bergejolak melukis  wajah dan dada cinta pertamaku semasa usia empat belas tahun. Jelas kuigat kala  dia berusaha menjadi yang tercepat di lomba balap karung. Keningnya yang basah itu serta  bebutir keringat melelh dipelipis wajahnya yang tak ayu-ayu amat, tapi punya buah dada ranum menantang. Aih, sungguh terang di lintasan kenangan  buah dadanya yang besar bergoyang naik turun  itu. Aku tak ragu pun tak malu mengaku, aku jatuh cinta setengah mati padanya,  lantaran dia satu-satuya wanita yang memberiku mimpi basah, tak pernah ada mungkin hingga seluruh usiaku habis terbakar. Bahkan sejelas purnama bangkit  dari alam bawah sadar, aku bakal gagal. Segera  aku mencari cara bersyukur yang tepat. aku berbagi tempat dengan pengunjung lain lalu  lirih menyayikan lelagu india, yang ku bisa kunyanyikan. Kurasa itu lebih mudah.

Lekas buku kumasukkan kembali ke dalam tas, sembari mendengar Tumhe De Kona versi  Sonu Nigam & Alka Yagnik,  seraya kusaksikan apa saja yang datang dan bakal tiba, menerka ada berapa banyak lelaki setia datang di kota ini, menduga ada banyak anak-anak yang patuh pada ibu mereka. Aku yakin keserasian alun-alun, bunga pohon kayu warna-warni, tong sampah yang  berjejer dan tuan tukang kebun yang penyanyang   bisa megantar pelajaran moral yang baik.  Tapi, sejujurnya di dunia yang ternoda dan teramat serakah ini, aku tak begitu tertarik pada gagasan lelaki setia atau anak-anak begitu patuh pada orang tua mereka,  Bagiku utopis layaknya upaya pengentasan kemiskinan atau usaha mencegah agar orang bodoh tidak bebas berkembang biak. Namun, mungkin karena kehadiran mereka mampu kaki kiamat  datang lebih cepat.

Aku  bersandar di pohon manggaku, tak terasa senja  pun perlahan jatuh, langit merembang, dedaun mulai layu.  kupejamkan mata hingga matahari sempurna terbenam. Sudah lama  sekali aku melakukannya, persis sejak masuk akil baligh, sebagian kawanku mengerti, meski tak pernah kuberi sebarispun argumentasi, dulu mataku terpejam begitu saja, sungguh sulit dipahami . Seorang kawan membantuku menyediakan jawaban buat orang di luar sana yang banyak bertanya.

“Bilang  saja  untuk mengormati surya berganti arah.”

Jawaban lumayan sopan, terdengar jujur dan baik  tapi aku sama sekali tak tertarik.

Dihitungan keseribu lima ratus kubuka mata, gemintang telah berpendar. Aku tak percaya pada apa yang kusaksikan . Alun-alun mengubah diri sekering gurun pasir.  Dingin, tersiksa dan menyimpan bahaya.

Lelaki tua penyemir sepatu keras memeluk tiang lampu.  Seorang di sebelahku berkata.

"Ia mantan pegawai perusahaan ternama, lama gagal membawa istrinya dari pelukan lelaki lain, kudengar dia menghabiskan seluruh uang yang berhasil ia curi dari brankas Bank untuk membeli bensin, kembang api, dan orang yang membunuhnya bila malam ini tidak mati.  Tengah malam nanti ia akan membakar diri bersama gadis  muda, ia kekasihnya,  hamil tua. Aku tertarik rencananya, kau juga kan?" dia tertawa keras lalu  bangkit mendekat lelaki penyemir sepatu yang wajahnya telah nampak sepucat mayat. Kupikir  lelaki itu mendapat bayaran cukup besar malam ini.

Hujan  pikun, merinai salah musim, di bawah atap toko emas, samar kulihat  kawanku si tukang pos duduk  di samping tukang ojek online yang menenteng kardus pembungkus makanan cepat saji, keduanya basah kuyup. Anak-anak  miskin dari kota jauh serupa anjing liar menghiburnya. Lagu tak laku mengudara, gahar guntur di langit utara.

“Aku  pasti bermimpi, ini mimpi.”

Aku bangkit, berjalan menuju seorang yang parassnya kembar seiras dengan kawan yang membawa kakiku ke alun-alun. Memastikan kalau bukan dia. Sial, itu kawanku.  Kala kutertegun.  Seorang gadis kecil menarik keras tas ranelku,  kubantu dia mendapatkannya. Mendapat tujuannya, dia   segera lari embunyi di kelimun manusia  sejenisnya.

Aku mematung  hingga tengah malam, tak lama kemudian tragedi itu tiba.  Ledakan susul menyusul semeriah kembang api tahun baru. Jilatan api  bergerak dari selatan. Segala hal yang tumbuh di atas kota terbakar nyaris demi nyaris dalam kobaran.

Di antara bunyi ledakan yang kian meningkat, terdengar tangis bayi berbagi nyaring dengan sirine  mobil pemadam kebakaran dan ambulan. Orang-orang bersorak girang, terlihat dungu namun garang. Mataku gelap, sebelum rubuh. Samar kulihat dari balik asap  setipis kabut, segrombolan lelaki dan perempuan  muda  menari polka, mereka saling memagut, berebut leher dan  lidah  di atas kap mobil pemadam kebakaran yang berhasil direngut.

Lamongan 30 Agustus 2019.
http://sastra-indonesia.com/2019/08/cara-mengikat-tali-sepatu/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Label

20 Tahun Kebangkitan Sastra-Teater Lamongan A Mustofa Bisri A. Anzieb A. Aziz Masyhuri A. Jabbar Hubbi A. Khoirul Anam A. Kurnia A. Syauqi Sumbawi A. Zakky Zulhazmi A.C. Andre Tanama A.H. J Khuzaini A.H.J Khuzaini A.S Laksana A.S. Laksana Abdul Hadi WM Abdul Kirno Tanda Abdurrahman Wahid Abid Rohmanu Acep Iwan Saidi Acrylic on Canvas Addi Mawahibun Idhom Ade P. Marboen Adib Baroya Adib Muttaqin Asfar Aditya Ardi N Adreas Anggit W. Adu Pesona Sang Wakil Cawapres RI Afrizal Malna AG. Alif Agama Agama Para Bajingan Agnes Rita Sulistyawaty Aguk Irawan M.N. Agunghima Agus Aris Munandar Agus Buchori Agus Prasmono Agus Priyatno Agus R. Subagyo Agus Setiawan Agus Sulton AH J Khuzaini Ahmad Damanik Ahmad Farid Yahya Ahmad Wiyono Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ainul Fitriyah Ajip Rosidi Akhmad Marsudin Akhmad Sahal Akhmad Sekhu Akhmad Taufiq Akmal Nasery Basral Aksin Wijaya Al Mahfud Alex R Nainggolan Ali Nasir Ali Soekardi Alunk Estohank Amanche Franck Oe Ninu Aming Aminoedhin Anakku Inspirasiku Anang Zakaria Andhi Setyo Wibowo AndongBuku #3 Andri Awan Andry Deblenk Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Antologi Puisi Kalijaring Antologi Sastra Lamongan Anton Kurnia Anugerah Ronggowarsito Anwar Syueb Tandjung Aprillia Ika Aprillia Ramadhina APSAS (Apresiasi Sastra) Indonesia Arafat Nur Arie MP Tamba Arie Yani Arief Junianto Arif 'Minke' Setiawan Arim Kamandaka Aris Setiawan Armawati Arswendo Atmowiloto Art Sabukjanur Arti Bumi Intaran Aryo Wisanggeni G Asap Studio Asarpin Asrizal Nur Awalludin GD Mualif Ayu Sulistyowati Aziz Abdul Gofar Bale Aksara Bambang Kempling Bandung Mawardi Banyuwangi Bara Pattyradja Bayu Agustari Adha Beni Setia Benni Indo Benny Benke Bentara Budaya Yogyakarta Berita Berita Duka Berita Lukisan Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Bidan Romana Tari Binhad Nurrohmat Biografi Bisnis Bondowoso Bre Redana Brunel University London Budi P. Hatees Budi Palopo Buku Kritik Sastra Buldanul Khuri Capres dan Cawapres 2019 Catatan Cerbung Cerpen Chicilia Risca Coronavirus Cover Buku COVID-19 Cucuk Espe D. Kemalawati Dadang Ari Murtono Dadang Sunendar Damar Juniarto Damhuri Muhammad Damiri Mahmud Dantje S Moeis Darju Prasetya Dedi Gunawan Hutajulu Den Rasyidi Deni Jazuli Denny Mizhar Depan Mts Putra-Putri Simo Sungelebak Desa Glogok Karanggeneng Dessy Wahyuni Dewi Yuliati Dhanu Priyo Prabowo Dhoni Zustiyantoro Dian Sukarno Dien Makmur Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Diskusi buku Djoko Pitono Djoko Saryono Djuli Djatiprambudi Doddy Hidayatullah Dody Yan Masfa Donny Syofyan Dorothea Rosa Herliany Dr. Hilma Rosyida Ahmad Drs H Choirul Anam Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Kartika Rahayu Dwi Pranoto Dwijo Maksum Edeng Syamsul Ma’arif Efendi Ari Wibowo Eidi Krina Jason Sembiring Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Israhayu Emha Ainun Nadjib Endang Kusumastuti Eni S Eppril Wulaningtyas R Erdogan Esai Esha Tegar Putra Evan Ys F Rahardi Fahrudin Nasrulloh Faisal Kamandobat Faiz Manshur Faizal Af Fajar Setiawan Roekminto Farah Noersativa Fathoni Fedli Azis Felix K. Nesi Festival Gugur Gunung Festival Literasi Nusantara Festival Sastra Gresik Fikram Farazdaq Forum Santri Nasional (FSN) FPM (Forum Penulis Muda) Ponorogo Galeri Lukisan Z Musthofa Galuh Tulus Utama Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gesit Ariyanto Gita Ananda Goenawan Mohamad Gola Gong Golan-Mirah Grathia Pitaloka Gufran A. Ibrahim Gus Ahmad Syauqi Ma'ruf Amin Gus Bahaudin H.B. Jassin Halim HD Hamzah Sahal Handoyo El Jeffry Happy Susanto Hardi Hamzah Haris Firdaus Haris Saputra Harun Syafii bin Syam Hasnan Bachtiar Hawe Setiawan Hendra Sugiantoro Hengky Ola Sura Heri Kris Heri Ruslan Herry Mardianto Heru Maryono Hilmi Abedillah Himpunan Mahasiswa Penulis (STKIP PGRI Ponorogo) Holy Adib htanzil Hudan Nur Husin I Nyoman Suaka IAIN Ponorogo Ibnu Wahyudi Idayati Idi Subandy Ibrahim Idris Pasaribu Ignas Kleden Ilham Yusardi Imam Nawawi Imam Nur Suharno Imam Zanatul Huaeri Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Indigo Art Space Indra Intisa Indra Tjahyadi Indri Widiyanti Inti Rohmatun Ni'mah Inung Setyami Irfan El Mardanuzie Isbedy Stiawan ZS Iskandar Noe Isnatin Ulfah Isti Rohayanti Istiqomatul Hayati Jadid Al Farisy Jafar M Sidik Jakob Sumardjo Janual Aidi Jawapos Jejak Laskar Hisbullah Jombang Jember Jember Gemar Membaca JIERO CAFE Jihan Fauziah Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Edy Raharjo John Halmahera Joko Pinurbo Joko Widodo Joni Syahputra Jual Buku Jual Buku Paket Hemat Jurnalisme Sastrawi K.H. M. Najib Muhammad K.H. Ma'ruf Amin K.H. Ma’ruf Amin Kabar Pelukis Kalimat Tubuh Kang Daniel Kartika Foundation Karya Lukisan: Z Musthofa Kasnadi Kedai Kopi Sastra Kemah Budaya Panturan (KBP) KH. M. Najib Muhammad KH. Marzuki Mustamar Khadijah Khaerul Anwar Khairul Mufid Jr Khansa Arifah Adila Khawas Auskarni Khudori Husnan Khulda Rahmatia Ki Ompong Sudarsono Kim Ngan Kitab Arbain Nawawi Kompas TV Komplek Gor Kamantren Paciran Lamongan Komunitas Deo Gratias Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias Komunitas Perupa Lamongan (KOSPELA) Komunitas Sablon Ponorogo Komunitas Teater Sekolah Kabupaten Gresik (KOTA SEGER) Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) Korban Gempa Koskow Kostela KPRI IKMAL Lamongan Kritik Sastra Kue Kacang Kue Kelapa Pandan Kue Lebaran Edisi 2013 Kue Nastar Keju Kue Nastar Keranjang Kue Pastel Kue Putri Salju Kue Semprit Kurnia Sari Aziza Kuswaidi Syafi'ie L Ridwan Muljosudarmo Lagu Laksmi Shitaresmi Lamongan Jawa Timur Landscape Hutan Bojonegoro Landscape Rumah Blora Lathifa Akmaliyah Legenda lensasastra.id Lie Charlie Linda Christanty Linus Suryadi AG Literasi Lombok Utara Lucia Idayani Ludruk Karya Budaya Lukas Adi Prasetyo Lukisan Andry Deblenk Lukisan Karya: Rengga AP Lukisan Potret K.H. Hasyim Asy'ari Lukisan Sugeng Ariyadi Lukman Santoso Az Lumajang Lusiana Indriasari Lutfi Rakhmawati M Khoirul Anwar KH M Nafiul Haris M. Afif Hasbullah M. Afifuddin M. Fauzi Sukri M. Harir Muzakki M. Harya Ramdhoni Julizarsyah M. Lutfi M. Mustafied M. Riyadhus Solihin M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja M’Shoe Mahamuda Mahendra Mahendra Cipta Mahmud Jauhari Ali Maimun Zubair Makalah Tinjauan Ilmiah Makyun Subuki Malam Apresiasi Seni Tanahmerah Ponorogo Malkan Junaidi Maman S. Mahayana Mardi Luhung Margita Widiyatmaka Mario F. Lawi Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Masuki M. Astro Masyhudi Mathori A Elwa Matroni El-Moezany Maulana Syamsuri Media Ponorogo Media: Crayon on Paper Media: Pastel on Paper Mei Anjar Wintolo Melukis Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Memoar Purnama di Kampung Halaman Menggalang Dana Amal MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mien Uno Miftakhul F.S Mihar Harahap Mila Setyani Misbahus Surur Mix Media on Canvas Moch. Faisol Mochammad A. Tomtom Moh. Jauhar al-Hakimi Mohammad Ali Athwa Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Alimudin Muhammad Antakusuma Muhammad Itsbatun Najih Muhammad Marzuki Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Subarkah Muhammad Wahidul Mashuri Muhammad Yasir MUI Mujtahidin Billah Mukafi Niam Mukani Mukhsin Amar Mulyadi SA Mulyosari Banyuurip Ujung Pangkah Gresik Jawa Timur Musa Ismail Muslim Abdurrahman Naskah Teater Neva Tuhella Nezar Patria Nidhom Fauzi Niduparas Erlang Ninuk Mardiana Pambudy Nirwan Ahmad Arsuka Noor H. Dee Novel Pekik Novel-novel bahasa Jawa Nur Ahmad Salman H Nur Hidayati Nur Wachid Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurul Komariyah Nuryana Asmaudi SA Nyiayu Hesty Susanti Obrolan Oil on Canvas Olimpiade Sastra Indonesia 2013 Oyos Saroso H.N. Padepokan Lemah Putih Surakarta Pagelaran Musim Tandur Paguyuban Seni Teater Ponorogo Pameran Lukisan MADIUN OBAH Pameran Seni Lukis Pameran Seni Rupa Parimono V / 40 Plandi Jombang Paring Waluyo Utomo Pasuruan PDS H.B. Jassin Pelukis Dahlan Kong Pelukis Jumartono Pelukis Ponorogo Z Musthofa Pelukis Rengga AP Pelukis Senior Tarmuzie Pelukis Unik di Ponorogo Pemancingan Betri Pendhapa Art Space Penerbit SastraSewu Pengajian Pengetahuan Pesantren An Nawawi Tanara (Penata) Pito Agustin Rudiana Pondok Pesantren Al-Madienah Pondok Pesantren Ali Bin Abi Thalib Kota Tidore Kepulauan Pondok Pesantren Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang Pramoedya Ananta Toer Presiden Gus Dur Probolinggo Prof Dr Achmad Zahro Prof Dr Aminuddin Kasdi Prof Dr Soediro Satoto Proses Kreatif Puisi Puisi Menolak Korupsi Purnawan Andra Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin Pusat Grosir Kaos Polos Ponorogo Pustaka Bergerak PUstaka puJAngga Putri Asyuro' Rizqiyyah Putu Fajar Arcana R.Ng. Ronggowarsito Radhar Panca Dahana Rahmat Sularso Nh Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ranang Aji SP Rasanrasan Boengaketji Ratna Ratna Sarumpaet Raudal Tanjung Banua Raudlotul Immaroh Redland Movie Reiny Dwinanda Rengga AP Resensi Reuni Mts Putra-Putri Simo Sungelebak angkatan 1991-1992 Reyog dalam Lukisan Kaca Ribut Wijoto Ridha Arham Riki Dhamparan Putra Rinto Andriono Ris Pasha Rizka Halida Robin Al Kautsar Rodli TL Romi Zarman Rosi Rosidi Tanabata Rukardi Rumah Budaya Pantura (RBP) Rx King Motor S Prasetyo Utomo S Yoga S. Jai Sabrank Suparno Sahlan Bahuy Sajak Sakinah Annisa Mariz Samsudin Adlawi Samsul Bahri Sandiaga Uno Sanggar Pasir Sanggar Shor Zhambou Santi Maulidah Sapardi Djoko Damono Sapto HP Sartika Dian Nuraini Sasti Gotama Sastra dan Kuasa Simbolik Sastri Bakry Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis Sekolah Literasi Gratis (SLG) SelaSastra #24 di Boenga Ketjil Jombang SelaSastra Boenga Ketjil SelaSastra Boenga Ketjil #33 Self Portrait Senarai Pemikiran Sutejo Seni Ambeng Ponorogo Seniman Tanah Merah Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Septi Sutrisna Sergi Sutanto Setia Budhi Shinta Maharani Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sindhunata Situbondo Siwi Dwi Saputro SMP Negeri 1 Madiun Soediro Satoto Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sonia Fitri Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Spectrum Center Press Spirit of body 1 Spirit of body 2 Spirit of body 3 Sri Mulyani Sri Wintala Achmad Stefanus P. Elu STKIP PGRI Ponorogo Suci Ayu Latifah Sucipto Hadi Purnomo Sudirman Sugeng Ariyadi Suharwedy Sujarwoko Sujiwo Tedjo Sukitman Sumani Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Switzy Sabandar Syaikh Prof. Dr. dr. Yusri Abdul Jabbar al-Hasani Asyadzili Syaikh Yusri al-Hasani Al Azhari Tamrin Bey TanahmeraH ArtSpace Tangguh Pitoyo Taufik Ikram Jamil Taufik Rachman Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater nDrinDinG Teaterikal Teguh Winarsho AS Telaga Ngebel di Kabupaten Ponorogo 1910 Temu Penyair Timur Jawa Tengsoe Tjahjono Tiyasa Jati Pramono Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjut Zakiyah Anshari To Take Delight Tosa Poetra Toto Gutomo Tri Andhi Suprihartono Tri Harun Syafii Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus S UKM Teater Yakuza '54 Universitas Indonesia Universitas Jember Untung Wahyudi Usman Arrumy Usman Awang Ustadz Chris Bangun Samudra Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Viddy AD Daery Virdika Rizky Utama W.S. Rendra Wachid Nuraziz Musthafa Warih Wisatsana Warung Boengaketjil Wawan Pinhole Wawancara Widhyanto Muttaqien Widya Oktaviani Wisnu Hp Wita Lestari Wuri Kartiasih Yeni Pitasari Yerusalem Ibu Kota Palestina Yohanes Sehandi Yona Primadesi Yosep Arizal L Yoseph Yoneta Motong Wuwur YS Rat Yuditeha Yuli Yulia Sapthiani Yusri Fajar Yusuf Suharto Yusuf Wibisono Yuval Noah Harari Z. Afif Z. Mustopa Zainal Arifin Thoha Zainuddin Sugendal Zaki Zubaidi Zehan Zareez Zulfian Ebnu Groho Zulfikar Fu’ad Zulkarnain Siregar