Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini

(Interpretasi puisi Fahrudin Nasrulloh yang bertitel
“Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini” sumber Jawa Pos, 2/6/2013)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini
Fahrudin Nasrulloh

Rel, tanganku tak bisa jauh menuliskanmu. Kepingan-kepingan dunia berderak di mata kita. Apa kita sudah kalah. Apa kita sudah takluk pada nasib. Pada takdir. Kau pernah bilang, "di mana pun kita berpijak, di situlah tanah air kita." Aku sendiri tak bisa mengendalikan nasib. Sebab aku lama terlempar di sumurnya. Sedang kau diombang-ambingkan nasib. Diombang-ambingkan takdir. Sementara dulu kau bilang, "Takdir harus kita tuliskan sendiri dengan pena dan puisi." Tapi puisi, adalah kuda terbang bersayap gagak hitam, adalah penghancuran dari segala, adalah pembunuhan berkali-kali menikam. Kita musti kuat, Rel. Tak cukup kita menuliskan kekalahan-kekalahan cemerlang yang terlanjur mendekap erat ini.

Kita dikatai sudah mampus berkali-kali
Di padang suket teki ini
Kita harus bangkit, Rel
Tak ada jalan lain, tak ada jalan pintas

Dowong, 10 Maret 2013

* Judul "Rel, Masihkah Takdir Terlalu Dini" terambil inspirasinya dari judul kumpulan puisi "Balada-balada Takdir Terlalu Dini" karya Nurel Javissyarqi (PUstaka puJAngga, 2001).

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Pasar Seni Indonesia