Mitigasi Budaya dan Sastra Kita

Joni Syahputra
Harian Haluan, 04 Maret 2012

Sangat menarik polemik budaya dan sastra yang muncul akhir-akhir ini. Polemik yang mempersoalkan pergelaran Numera (Nusantara Melayu Raya). Sebenarnya pada saat ini saya lebih tertarik untuk mem­bahas remunerasi/tunjangan kinerja dibanding Numera itu sendiri. Pun, judul di atas hanya sebagai daya tarik saja. Akan tetapi, ada perten­tangan pemikiran antara sastrawan tua dan muda, itulah yang mendo­rong saya untuk ikut menulis.

Perlu ditegaskan, saya bukan sastrawan dan bukan pula penulis novel. Oleh karena itu novel saya pun tidak ada. Hal itu sangat perlu diutarakan terlebih dahulu. Saya hanyalah orang biasa, masyarakat awam, yang memandang dari atas awam pula. Posisi saya adalah sebagai masyarakat biasa, tidak memihak ke kanan atau ke kiri. Tidak banyak referensi untuk ikut berko­mentar menyangkut substansi. Saya juga tidak mengikuti polemik di dunia maya tentang Numera itu sendiri. Alasan lain yang membuat saya enggan menulis pada awalnya adalah institusi tempat saya men­cari nafkah sehari-hari. Walaupun saya menulis secara pribadi dan atas nama pribadi, tidak ada keterkaitan dengan institusi, akan tetapi tentu­nya nanti masih akan ada sebagian kalangan yang susah membe­dakannya.

Persoalan Numera yang diba­has Pak Darman Moenir (PDM) “Awas(i) Numera” pada tanggal 6 Februari 2012 di Harian Haluan memang perlu disikapi lebih dalam. Saya menulis PDM, tidak ingin menyebut dengan DM saja karena menghormati beliau yang sudah sepuh. Jarak umur dan pengalaman yang sangat jauh membuat saya merasa durhaka kalau hanya me­manggil dengan DM saja. PDM tentu punya data, punya cukup bahan, punya cukup pengalaman, mengapa beliau dengan tegas menulis dan menolak Temu Sas­trawan Numera I di Padang tanggal 16—18 Maret mendatang.

“Bukankah Numera berbicara tentang bahasa dan pembangunan sastra Melayu di dunia modern? Lalu mengapa harus ada temu sastrawan Numera I di Padang?” Begitu yang saya kutip dari salah satu tulisan PDM.

Dalam tulisan tersebut saya menangkap pesan, PDM ingin mengatakan Numera adalah produk Malaysia (ide awal pendiriannya adalah sastrawan Malaysia) yang tentu saja bertujuan untuk kepen­tingan Malaysia. Dengan tegas PDM mengatakan ini adalah politik kebudayaan. Melayu Malaysia beru­saha mendekatkan diri ke Minang­kabau. Dari jawaban tersebut saya menyimpulkan PDM ingin menga­takan ini galas (jualan) orang, mengapa kita yang menjojokannya (menjualnya). Apakah tidak sebaik­nya kita yang membuat produk sendiri?

Sementara itu, dari jawaban M Subhan dan Romi Zarman di harian yang sama saya menangkap pesan bahwa pelaksanaan Numera banyak manfaatnya. Di dalam temu sastra nantinya akan ada seminar inter­nasional, temu sastrawan, wisata sastra dan tentu saja diskusi-diskusi menyangkut persoalan sastra. Pesertanya pun berasal dari Brunei, Singapura, tidak hanya Malaysia dan Indonesia. Pun, penye­leng­gara­nya adalah putra Minangkabau, bukan Malaysia.

Nah, Dinas Pariwisata Kota Padang pelaksanaan acara ini dari segi promosi pariwisata. Peserta dari luar akan datang ke Padang, tentu saja mereka akan mengabarkan ke tetangganya, ke masyarakat lingkungannya, ke warga negaranya tentang keindahan alam Sumatra Barat, sehingga dunia pariwisata kian maju. Apalagi yang datang adalah para sastrawan dan penulis-penulis hebat.

Saya melihat benang merahnya hanya di situ Numera adalah produk Malaysia. Produk Malaysia yang tentu saja sarat dengan kepen­tingan-kepentingannya. Masing-masing pihak yang berpolemik tentu saja mempertahankan argumennya.

Ya, isu Malaysia memang ma­sih sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia. Klaim-klaim Malaysia terhadap (produk) Indonesia, mulai dari pulau, budaya, karya seni, dan sebagai macamnya serta perlakuan kasar Malaysia terhadap TKI. Semua itu masih menjadi sesuatu yang masih membara. Saya kira tentu panitia tidak akan lupa dengan semua itu.

Polemik seperti ini tentu tidak akan muncul jika dijual adalah produk orang Brunei, Singapura, Taiwan, Amerika, Timur Timur, Maladewa atau segala macamnya. Atau Pertemuan Penyair Nusantara berikutnya dihelat di Padang, saya kira semua pihak akan mendukung pelaksaan tersebut. Saya tidak dalam posisi anti Malaysia. Akan tetapi jika sudah terjadi benturan antara Indonesia dan Malaysia, tentu saya akan membela bumi pertiwi. Saya mendengar dari beberapa rekan yang sudah berkunjung ke Malaysia bahwa Malaysia itu indah, bagus, dan lebih maju dari Indonesia. Hal itu tentu saja betul. Sebab, orang Indonesialah yang pergi berkuli menjadi TKI di sana. Mana ada orang Malaysia yang yang menjadi petani penggarap kebun markisa di kampung saya (Alahan Panjang).

Terus berpolemik tentu akan menguras energi apalagi polemik ala kita, sedikit banyaknya ukhuwah akan rusak. PDM bersikukuh dengan pendiriannya, panita bersikukuh dengan posisinya pula. Sementara tanggal pelaksanaan sudah semakin dekat, saran saya, pihak panitia mesti sangat berhati-hati juga. Sehingga apa yang dicemaskan PDM tentang penyusupan kepen­tingan-kepen­tingan sastrawan Malaysia bisa dihindari. Ibarat maelo rambut dalam tepung. Rambut taelo tepung tidak rusak. Atau menulis sms di atas motor, sms terkirim motor tidak masuk parit. Selamat.

Dijumput dari: http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=13167:mitigasi-budaya-dan-sastra-kita&catid=41:kultur&Itemid=193

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Pasar Seni Indonesia