Cari Blog Ini

Memuat...

Kamis, 11 Oktober 2012

Mboyong Putri Kepayon

Sucipto Hadi Purnomo
Suara Merdeka, 3 Maret 2010

Bagi laki-laki, namanya payu rabi. Bagi perempuan, namanya payu laki. Pasangan laki-laki dan perempuan yang membina rumah tangga, salaki rabi sebutannya. Namun agak berbeda dari laki-laki, momen untuk bisa sampai payu bagi perempuan tak jarang menjadi titik krusial yang ”yen gampang luwih gampang, yen angel angel kalangkung”.

Dalam banyak kisah lama, baik yang sering dipergelarkan pada lakon wayang maupun ketoprak, pernikahan putri raja atau perempuan-perempuan istimewa kerap kali ditandai oleh momen sayembara. Barangsiapa bisa memenuhi permintaan sang putri, dialah laki-laki yang berhak nggarwa sang putri.

Danaraja, sebagai raja muda, bolehlah memiliki semuanya: ketampanan, kesaktian, lebih-lebih kekuasaan dan raja brana. Namun semua itu tidaklah cukup baginya untuk bisa menunaikan impian besarnya: memboyong Dewi Sukesi ke negeri Lokapala dan menjadikannya sebagai permaisuri.

Apa pasal? Berdasarkan sayembara di negeri Alengka, hanya dia yang mampu membabar Sastra Jendra Hayuningrat kepada Sukesilah yang berhak memperistri perempuan jelita itu. Padahal, mendengar nama Sastra Jendra pun baru ketika kabar tentang sayembara itu tersiar.

Lalu, kepada siapa lagi dia pantas mengadu kalau bukan kepada ayahandanya, Resi Wisrawa. Kepada Wisrawa, dia meminta untuk dilamarkan Sukesi buat dirinya. Maka berangkatlah resi tua itu ke Alengka.

Wisrawa memang berhasil membabar Sastra Jendra sekaligus berhak memboyong sang putri. Namun Sukesi bukan untuk Danaraja, melainkan untuk dirinya sendiri. Sebab, pembabaran ngelmu wingit itu berujung pada tindakan sebagaimana layaknya salaki-rabi Wisrawa dan Sukesi.

Ajang Promosi

Sayembara Sukesi memang telah menjadi ajang promosi bagi sang dewi. Pada tingkat ”pemasaran”, momen itu memang telah mampu menempatkan putri negeri Alengka ini sebagai wanodya pinilih. Namun sayembara itu justru berujung pada ”kecelakaan” dari sisi kemanusiaan.

Pada kisah lain, bisa disimak bagaimana upaya Begawan Bagaspati untuk bisa menemukan lelaki pujaan hati putrinya yang pernah datang hanya lewat mimpi, Narasoma.

Lewat upaya yang beraroma rudapaksa, Bagaspati berhasil memboyong Narasoma untuk Setyawati, putrinya. Namun upaya dan pengorbanan Bagaspati tidak cukup sampai di situ. Melihat paras Bagaspati yang berupa raksasa, memang Salya berusaha berontak dari bujuk-rayu lelaki tua itu. Sebab, segera terbayang olehnya, kalau bapaknya saja seperti itu, pastilah paras anaknya tak jauh-jauh dari itu.

Tetapi dugaan Salya meleset. Ketika bertemu langsung, seorang diri dengan Setyawati, betapa ia terperangah karena perempuan itu ternyata cantik jelita. Toh begitu, Salya tidak segera bersedia menikahi Setyawati, kecuali dengan sebuah syarat.

Dia mau menikahi Setyawati jika sang calon mertua mau memberikannya ajian kesaktian bernama Candhabirawa. Semula Setyawati tak begitu ngeh bahwa dengan permintaan itu sebenarnya Salya menginginkan kematian Bagaspati, karena sebagai ksatria dia merasa malu memiliki mertua berupa raksasa. Sebabnya lagi, dengan mengoperkan ngelmu-nya, secara otomatis Bagaspati sudah siap sedia untuk dijemput maut.

Sebaliknya bagi Bagaspati, tiada keraguan sedikit pun untuk memungkasi hidupnya demi putrinya payu laki sesuai dengan kehendak hati. Kebahagiaan sang anak, baginya, adalah segala-galanya.

Harga Perempuan

Baik Sukesi maupun Setyawati sebenarnya telah menjalankan strategi untuk memberikan arti pada ke-payu-an masing-masing sebagai seorang gadis. Lewat sayembara, Sukesi sekaligus sedang menyematkan ”harga” keperempuannya. Betapa untuk sekadar melamar, tak semua orang sanggup melakukkannya.

Boleh saja cinta Danaraja begitu menggunung, sebagaimana cinta raja muda dan pangeran lainnya terhadap Sukesi. Namun cinta akan berhenti sebagai hasrat untuk merenda benang asmara belaka, dan kemudian patah hati, jika tak ada kesanggupan untuk medhar Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwatung Diyu.

Dengan sayembara, mereka yang semula tidak tahu menjadi tahu. Mereka yang semula tidak peduli, berubah jadi menaruh perhatian. Dengan sayambara, publik sebenarnya sedang dalam proses untuk diyakinkan bahwa putri yang disayembarakan bukan sembarang perempuan, melainkan perempuan yang harus ditebus dengan harga mahal untuk mendapatkannya.

Dalam dunia ketoprak, sayembara mboyong putri kian lazim saja menjadi bagian untuk membangun tegangan cerita. Keinginan untuk menggelar sayembara kadangkala tidak hanya dilatarbelakangi untuk sekadar ngundhakke rega sang putri, tetapi sekaligus untuk menjaring orang tersakti di seluruh negeri.

Dengan syarat tertentu yang membuat tidak semua orang bisa memenuhi, kesaktian hampir selalu pasti menjadi prasyarat untuk berkompetisi. Tanpa kesaktian, ia hanya hadir sebagai pecundang.

Penyelenggaraan sayembara boyong sebenarnya juga menjadi sebuah test case bagi raja untuk mengukur seberapa besar potensi kekuatan yang bisa menggoyahkan dinastinya. Di sisi lain, sayembara juga menjadi ajang pamungkas untuk mengungguli segala potensi tersebut sekaligus menaklukkannya. Dengan begitu, tak ada lagi yang berani macam-macam untuk melawan otoritasnya.

Karena itulah, dalam kisah babad dan ketoprak yang lekat sekali dengan perebutan kekuasaan, modus sayembara mboyong putri menjadi begitu jamak dan seolah-olah menjadi motif cerita yang stereotipe.

Penyelenggaraan sayembara pun bisa dilandasi oleh aneka tujuan. Mulai dari sekadar menampik lamaran calon yang tidak dikehendaki dan sebaliknya menjaring calon yang dimaui, sayembara mboyong putri bisa tampak begitu fungsional, lebih dari sekadar mburu payu laki.

*) Sucipto Hadi Purnomo, salah satu ketua Ikatan Dosen Budaya Daerah Indonesia (Ikadbudi)
Dijumput dari: http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/kejawen/2010/03/03/484/Mboyong-Putri-Kepayon

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar