Cari Blog Ini

Memuat...

Minggu, 30 September 2012

Lukisan Sejarah dan Sejarah Lukisan

Heru Maryono
Harian Analisa, 15 Apr 2012

Artikel ini, sengaja saya tuliskan sebagai tanggapan atas artikel: "Ketika Pelukis Minta Lukisan Pemandangan Alam, Dilarang" yang tulis oleh YS. Rat.

"Lukisan Sejarah" (History Painting) artinya lukisan ’naturalistik’ yang menghadirkan peristiwa sejarah serta kisah-kisah yang terkandung dalam (kitab) ajaran agama maupun mitologi. Sebagai contoh "Samson dan Delilah". Dua pelukis jaman Barok-Rokoko, Peter Paul Rubens dan François Boucher telah melukiskannya. Sebelumnya, pada zaman Renaissance Awal, Andrea Mantegna juga melukiskan.

Ada perbedaan antara lukisan François Boucher (Rokoko) dan Peter Paul Rubens (Barok) dalam satu kurun waktu serta Andrea Mantegna (Renaissance Awal) pada kurun waktu lainnya. Ciri Barok-Rokoko tampil ’aduhai’ dengan karakter mengeksploitasi sensualitas dan seksualitas. Lukisan Renaissance Awal tampil ’kalem’ tanpa sentuhan itu. Sensualitas ditunjukkan Peter Paul Rubens dengan melukiskan gaun Delilah terbuka, sehingga memperlihatkan dadanya. Lukisan François Boucher tampil vulgar. Menghadirkan ’sepasang sejoli’ telanjang dalam adegan berciuman seronok. Lukisan Andrea Mantegna menukik pada inti kisahnya, yakni adegan memotong rambut untuk menghilangkan kekuatan (kesaktian) Samson.

Ketelanjangan juga muncul di Vatican, Roma. Dijumpai pada lukisan dinding dan langit-langit (karya Michelangelo) Sistine Chapel. Keberadaannya sejalan dengan kehadiran patung figur telanjang (karya Michelangelo) berjudul "David". Walaupun tidak semua, seperti dijumpai pada patung (Michelangelo) berjudul "Moses" yang terlihat berpakaian sepenuhnya menutup tubuh.

Mengapa begitu bebas figur telanjang dilukiskan atau dipatungkan di Eropa? Hal ini tidak terlepas dari latar belakang sejarah. Bermula dari kehadiran patung-patung (naturalistik) Yunani Kuno yang sudah muncul pada abad IV Sebelum Masehi. Berlandaskan prinsip "Anthropomorphic" (Human in Form atau Bentuk Manusia), Dewa dipatungkan sebagai "Godlike Human Beings" (Dewa Menjadi Manusia) dan manusia (yang dipatungkan) sebagai "Manlike Gods" (Manusia Seperti Dewa).

Penghormatan untuk mematungkan figur juga diberikan kepada pemenang Olympic Games (pada zaman itu). Kontestan yang keseluruhannya pria tidak satupun mengenakan pakaian. Demikian pula saat dipatungkan. Sebagai contoh, patung "Discus Thrower", karya Myron. Dewa pun dipatungkan telanjang. Sebagai contoh, "Artemision Zeus", karya Onatas.

Untuk pembanding, penulis masih ingat saat study tour ke Bali tahun 1979. Ketika itu melihat pekerja-pekerja (perempuan semua) memperkuat bantaran sungai dengan cara menumpukkan batu. Semua bertelanjang dada. Tradisi berpakaian seperti ini sudah lenyap karena alasan norma susila. Pada hal, saat perempuan Bali berpakaian seperti itu, tentu dilandasi pertimbangan normatif.

Tanpa terkecuali bila seorang pelukis melukiskan figur telanjang. Apalah daya? Bila massa dari ’ormas’ datang "membredel" pameran. Lukisan figur telanjang diturunkan dengan paksa. Peristiwa ini terjadi beberapa tahun silam saat berlangsung pameran "CP Biennale" di Jakarta, dikuratori Jim Supangkat. Kontan, pameran ditutup. Perbuatan ini petunjuk nyata.

Busana Bali, tidak lagi dapat dirujuk sebagai warisan tradisi. Sanksi pornoaksi dan pornografi siap menjerat bagi pelanggar. Termasuk penertibannya yang dilakukan ’ormas’.

Kembali ke perkembangan sejarah di Eropa. Situasinya berbeda saat lahir Realisme pada abad XIX. Sekalipun memiliki persamaan melukiskan figur manusia, namun konsepnya berbeda antara Lukisan Sejarah dan Realisme. Lukisan Sejarah (History Painting) mengagungkan mitos dan kejadian masa lalu, sedangkan Realisme menolak mitos. Lebih konkrit, menolak otoritas agama.

Pernyataan paling terkenal Gustave Courbet saat menyuarakan "manifesto" (deklarasi) kelahiran Realisme. "Tunjukkan Malaikat, saya akan melukiskan". Sebuah pernyataan yang wajar dikumandangkan, bila mengingat yang bersangkutan Atheist dan Komunis. Prinsip yang dibangun bertumpu pada "kasat mata". Dengan demikian, figur telanjang sama kedudukannya dengan pemandangan alam, bila yang dilihat memang itu untuk dilukis.

Kaitannya dengan "pembredelan" pameran, tanpa ’penggeneralisasian’ prinsip "kasat mata", penurunan paksa lukisan figur telanjang tidak dapat diberikan pembelaan. Bila ada pernyataan "lukisan bugil dilarang, maka lukisan pemandangan juga harus dilarang", persamaan prinsip "kasat mata" justru untuk membela lukisan figur telanjang dari kesemena-menaan pihak lain. Pernyataannya termasuk untuk menyikapi UU Pornografi.

Kurang jelas! Bila lukisan realistik menampilkan orang bugil dilarang, maka sekalian semua lukisan realistik yang lain juga dilarang. Dari still-life, bunga hingga pemandangan alam. Pernyataan ini untuk membangun kebersamaan yang solid, agar lukisan bugil tidak terusik. Sama-sama realistik, bila yang satu dilarang (bugil), sekalian semuanya saja. Penerangan ini harus diberikan. Harapannya, orang berpikir dua kali untuk menjatuhkan larangan pada lukisan bugil, karena persamaannya dengan pemandangan yang sama-sama bercorak realistik.

Bila pernyataan ini ditafsirkan "melarang lukisan pemandangan alam" seperti dikemukakan dalam artikel "Ketika Pelukis Minta Lukisan Pemandangan Alam, Dilarang", di rubrik ’Rebana’, harian Analisa, tanggal 25 Maret 2012, itu artinya juga "kesemena-menaan Pihak Lain" (bukan senirupa) ’mengobok-obok’ wilayah senirupa. Penulis tidak pernah melangkah ke sastra atau hukum dalam menulis artikel.

Status penulis bukan pelukis (profesional), melainkan dosen. Kebetulan, diberi tugas mengajar matakuliah "Sejarah Seni Rupa Barat" dari tahun 1992 hingga sekarang. Artinya, berpolemik dengan Pihak Lain, sama artinya menghambur-hamburkan perbendaharaan pengetahuan sejarah senirupa tetapi salah sasaran. Sekalipun demikian, biarlah dihambur-hamburkan untuk lebih memberi penjelasan.

Judul artikel "Ketika Pelukis Minta Lukisan Pemandangan Alam, Dilarang" dan isi pernyataan "mengategorikan lukisan manusia bugil sebagai sesuatu yang bersifat porno dan dilarang, maka lukisan pemandangan alam pun harus dilarang", ini sepenuhnya benar terjadi dalam perkembangan sejarah senirupa di Eropa.

Bukti Realisme bersinggungan dengan pornografi, terlihat pada lukisan Gustave Courbet, berjudul "the Origin of the World" (1866). Subject matter yang dilukiskan tabu untuk ditulis. Apalagi dimuat reproduksi lukisannya. Lebih dahsyat lagi dari rumpun Art Nouveau yang sezaman abad XIX. Pesta pora tanpa batas bahkan eksploitasi berlebihan dihadirkan. Nama-nama pelukisnya antara lain Robert Auer, Norman Lindsay dan Franz von Bayros.

Reaksi total terhadap lukisan representatif menandai lahirnya lukisan abstrak pada abad XX. (Representasi artinya menghadirkan kembali, baik secara kasat mata maupun imajinatif.) Istilah Nouveau-Roman dikumandangkan Alain Robbe-Grillet untuk memberi "cap" seni abad XIX. Didalamnya termasuk Realisme, Romantikisme, Neo-Klasikisme, Pointilisme, Impresionisme dan Art Nouveau. Supremasi abstrak dibangun dengan cara mereaksi Nouveu-Roman.

Korban utama adalah Art Nouveau. Keberadaannya lenyap dari sejarah dan dianggap kerajinan. Hal ini dilatari spirit Art Nouveau yang bersifat "imperialistic". Menganeksasi (mengambil alih) artefak budaya koloni (jajahan) menjadi unsur visual. Sebagai contoh, karya Alphonse Mucha, berjudul "Salammbo". Karyanya menampilkan "mahkota (dadak merak) Reog Ponorogo" pada kepala seorang perempuan. Sikap superior menunjukkan kepemilikan (aneksasi) koloni, pada akhirnya dinilai sebagai sikap inferior mengagungkan budaya Timur. Aneksasi ini dipandang tempelan dan sifatnya menghias (kerajinan).

Thomas S. Eliot dan Joyce, mendeklarasikan "Dimulai dari Abad XX" dan "Pembunuhan Abad XIX". Viktor Shklovsky menyebut sebagai model "Knight Move" atau ’Tindakan Ksatria’. Pola tindakannya "making strange" atau ’menjadikan musuh’ keberadaan seni sebelumnya. Pelopornya, justru Realisme saat mereaksi lukisan sebelumnya, yakni lukisan keagamaan yang masuk rumpun History Painting.

Pemaksaan penghapusan mitos dalam spirit Realisme digantikan dengan "kasat mata", sejalan dengan pernyataan Clement Greenberg. Referensi diri dalam spirit modern bertujuan untuk menghilangkan efek karya seni sebelumnya. Clive Bell menggunakan istilah significant form. Artinya bentuk yang berbeda dari karya sebelumnya. Tampil beda berlandaskan significant form dan menggali referensinya sendiri akan melahirkan rangkaian perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Perbedaannya menunjukkan kemajuan. Masa lalu menjadi transisi yang mengantarkan ke masa kini dan masa kini menjadi jembatan yang menyeberangkan untuk menuju masa depan. Bila akhirnya Realisme terlarang bagi pelukis Eropa untuk perkembangan senilukis selanjutnya, tidak lain demi kemajuan yang mengatasnamakan Modernisme. Terbukti, setiap lahir aliran lukisan abstrak, pasti berbeda dengan aliran sebelumnya.

Di Medan, semua aliran menjadi rujukan. Terbukti dari munculnya pertanyaan. Alirannya apa? Dalam perkembangan sejarah harus ditegaskan. Aliran bukan untuk dirujuk, justru untuk diingkari atau direaksi. Setidaknya-tidaknya dimodifikasi.

Benar kategori ahli sejarah membedakan sejarah, proto-sejarah dan pra-sejarah. Dikatakan Sejarah, bila tulisan yang memberikan penjelasan lengkap. Dikatakan proto-sejarah, bila ada tulisan yang menyertai tetapi tidak lengkap. Dikatakan pra-sejarah, bila sama sekali tidak ada tulisan. Dengan sendirinya, dalam kemiskinan tulisan (kalau tidak mau dikatakan tidak ada sama sekali), maka yang dapat hidup berinteraksi dengan khalayak tidak lain adalah lukisan realistik. Tidak perlu penjelasan berupa tulisan dan hanya satu syaratnya, mirip dengan yang pernah dilihat sebelumnya, cukup! Sekaligus ini jawabab dari pertanyaan. Mengapa lukisan realistik tumbuh subur dan diagungkan di kota Medan? Utamanya Pemandangan Alam. Sebagai akibatnya, diusik sedikit saja, membuat pihak lain tersinggung dan menafsirkan menjadi larangan. Faktor penyebabnya, tidak lain karena miskinnya tulisan yang memberi penjelasan. Efek samping lainnya, keserumpunan lukisan figur telanjang dan pemandanganan sebagai lukisan realistik disamaartikan keserumpunan lukisan pemandangan dan figur telanjang sebagai pornografi. Celakanya, penafsirannya salah bukannya bertanya, tetapi dimanipulasi menjadi pernyataan penulis biar dikatakan cerdas dan dianggap superior ilmunya dibanding dengan dosen senirupa. Hebat! Kalau sudah hebat, beralih profesi saja menjadi kurator pameran seni lukis. Tidak tanggung-tanggung.

Pernah penulis mengusulkan penulisan katalog pameran yang bersungguh-sungguh kepada pemilik galeri di Medan yang sekarang sudah tutup. Jawaban yang didapat, mau berapa puluh juta hanya untuk katalog saja? Demikian pula dalam pembukaan Pameran Tunggal Lukisan Panji Sutrisno, tahun 2007. Penulis diminta memberi sambutan, gratis! Bila ditambahkan lagi, mendadak. Penulis katalog pameran selaku kurator pameran, menghilang. Kedua contoh ini dapat dijadikan indikator. Tulisan atau ulasan seni yang mendampingi penyelenggaraan pameran di kota Medan hanya main-main. Bahkan, mungkin dianggap "omong kosong". Ada hanya untuk pemanis dan pelengkap pameran. Bila ada gugatan, statusnya memperoleh kesempurnaan menjadi pelengkap penderita. Pelukisnya tenang-tenang saja. Laku atau tidak lukisannya, pemberi kata sambutan tidak pernah tahu. Pertanyaan terakhir. Apakah uraian ini bisa untuk menelaah sastra? Sebuah pertanyaan dari sedungu-dungunya orang yang pastilah telah terganggu jiwanya seperti sangkaan pihak lain.

*) Dosen senirupa Unimed.
Dijumput dari: http://www.analisadaily.com/news/read/2012/04/15/45732/lukisan_sejarah_dan_sejarah_lukisan/#.UGgNVq7mUdg

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar