Apa Kabar Gundala (Putra Petir)?

Lutfi Rakhmawati
www.radarjogja.co.id

Bulan ini, 40 tahun lalu, muncul kali pertama komik berjudul Gundala Putra Petir. Saat itu, Gundala, si tokoh utama, sempat menjadi pujaan anak-anak. Dia adalah superhero asli buatan Indonesia. Bagaimana nasib si pencipta tokoh itu sekarang?

Nama panjangnya adalah Harya Sura Minata. Tapi, nama bekennya Hasmi. Dialah sosok di balik tokoh superhero Gundala. Sejumlah judul komik yang saat itu populer lahir dari tangannya. Kini Hasmi berusia 63 tahun dengan dua anak yang masih kecil.

Komik dengan tokoh utama Gundala kali pertama di-launching pada 1969. Kehadiran Gundala kala itu mendapat sambutan hangat. Setelah itu, muncul judul-judul komik dengan tokoh utama Gundala. Hampir setiap tahun, lahir 1-4 judul dari tangan Hasmi. (selengkapnya tentang judul-judul komik Gundala baca grafis). Saking populernya kala itu (era 1970-1980), Gundala pernah difilmkan pada 1981. Film layar lebar itu disutradarai Lilik Sudjio. Tokoh Gundala diperankan aktor Teddy Purba.
Kini kepopuleran sang superhero Gundala agaknya tinggal nama. Hasmi mengakui, saat ini komik lokal tidak lagi punya tempat istimewa di kalangan masyarakat. Bila dahulu komik adalah hiburan yang punya prestise, saat ini banyak hiburan lain yang bisa diakses masyarakat dengan biaya lebih murah.

"Fans saya (Gundala) rata-rata sekarang berusia 40-50-an tahun. Tidak banyak anak muda yang tahu saya. Era komik sudah kehilangan kepopulerannya mulai 1980-an," kata Hasmi ketika ditemui Radar Jogja (Jawa Pos Group) di rumahnya di Karangwaru, Jogja. "Tapi, saya menganggap ini sebagai hal yang normal. Ini konsekuensi dari hidup di dunia global. Banyak hiburan asing yang masuk," imbuhnya.

Hasmi menceritakan, masa-masa keemasan Gundala datang sebelum 1980-an. "Saat itu tidak banyak hiburan yang bisa dinikmati. Saat itu belum ada game dan internet. Baca komik sudah yang paling gaul," katanya, lalu terkekeh.

Kepada penggemar setia yang masih mengingat Gundala dengan baik, Hasmi mengatakan bahwa dirinya sangat terkesan. "Sampai saat ini, Gundala bisa dibilang sudah tidur selama 25 tahun. Tapi, masih saja ada yang kadang bertanya kepada saya tentang kelanjutan Gundala," paparnya.

Sebagai salah satu hasil karya asli Indonesia, Hasmi berharap agar Gundala bisa kembali dikenalkan kepada generasi muda. Hasmi juga menilai ide memfilmkan Gundala sebagai ide bagus.

"Mengenalkan lewat film itu ide yang patut dicoba. Memang belum tentu sukses dan biayanya juga tinggi. Tapi, kenapa tidak dicoba" ujarnya.

Hiburan audio visual, kata Hasmi lebih diminati saat ini. Karena itu, Gundala juga bisa ditampilkan dalam audio visual. "Sekarang yang audio visual lebih disukai. Anak-anak lebih suka internetan dan main game daripada membaca. Mengapa tidak dikenalkan lewat audio visual" katanya.

Hasmi menyadari, membuat film membutuhkan usaha dan dana yang jauh lebih besar daripada membuat komik. Namun, Indonesia saat ini punya banyak individu kreatif yang bisa mendukung dibuatnya film Gundala.

Menurut saya, tidak seharusnya kita ragu memproduksi film Gundala karena khawatir tidak akan diterima pasar. Kita punya banyak bekal untuk itu kok. Yang penting adalah kerja sama tim dan pendukungnya," ucapnya yang siang itu ditemani sang istri Mujiati dan putri bungsunya, Batari Sekar Dewangga.

Selain setuju difilmkan, Hasmi juga tidak keberatan Gundala dijadikan game. Menurut dia, hal ini sah saja dilakukan asal karakter Gundala sebagai pembela kebajikan tetap dipertahankan. "Pada dasarnya, Gundala kan tokoh yang mengajarkan kebaikan. Mau dia tampil dalam bentuk film, animasi, atau game, sepanjang karakternya masih sama, saya tidak masalah," tegasnya.

Mengangkat kembali superhero lokal, lanjut Hasmi, perlu dilakukan agar kebanggaan terhadap bangsa sendiri muncul. "Kita kan sedang mengalami krisis identitas dan budaya. Apalagi, negara tetangga sering mengklaim budaya kita sebagai bagian dari mereka. Karena itu, budaya yang masih ada, termasuk karya sastra, perlu kita angkat kembali. Dengan begitu, muncul kebanggaan," terang ayah dua putri itu.

Media massa adalah satu di antara beberapa pihak yang paling bisa mengangkat kembali karya lokal, termasuk komik. Menyertakan kembali komik bersambung yang dibuat oleh komikus lokal bisa menjadi jalan awal untuk kembali mengenalkan komik lokal.

Bagi beberapa koran besar, rasanya tidak masalah untuk menyertakan seperempat halaman atau kolom kecil yang isinya komik lokal yang dibuat komikus lokal. Bila hal ini terus dilakukan, saya kira, pengenalan kembali karya lokal akan efektif," tuturnya.

Media massa juga punya risiko lebih kecil daripada penerbit. Bila penerbit "nekat" menerbitkan karya komik tanpa persiapan matang dan survei pasar sebelumnya, kerugian yang diderita terlalu besar. "Tapi, media massa kan tidak. Mereka hanya ngikut? di halaman korannya. Bila sudah efektif, baru giliran penerbit bekerja," kata pria yang berulang tahun tiap Desember itu.

Tidak ada perayaan khusus untuk ulang tahun ke-40 Gundala? Hasmi mengatakan, beberapa fans memang sempat mengontak untuk mengadakan acara kecil. "Tapi, saya kurang paham. Belum dikontak lebih detailnya. Rencananya sih akan dilaksanakan di Jakarta," tuturnya.
***

http://entertainment.kompas.com/read/2016/11/06/174338710/pencipta.komik.gundala.putra.petir.tutup.usia

Komentar

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com

Pasar Seni Indonesia